Saturday, October 31, 2009

Penghuni Senayan

Oleh: Saripudin HA

Sebanyak 560 Anggota DPR-RI dan 132 Anggota DPD-RI hasil pemilihan umum legislatif 2009 sudah dilantik dan berkantor di Senayan, awal Oktober ini. Siapa sajakah mereka?

Jauh-jauh hari, Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menyebut tiga tipe Anggota DPR yang akan duduk di gedung rakyat hasil Pemilu 2009, yaitu: (1) yang dimodali oleh kaum pemilik modal; (2) yang dekat dengan masyarakat, seperti tokoh adat, tokoh masyarakat, dan para artis; serta (3) mantan Anggota Dewan periode 2004-2009. Tipe pertama akan melahirkan produk UU yang pro-pasar dan anti-rakyat. Jika tipe kedua yang dominan, dikhawatirkannya kualitas parlemen akan menurun. Sedangkan tipe ketiga “akan jadi guru korupsi bagi Anggota yang baru” (Kompas, 4 Maret 2009).

Menurut media, 396 dari 560 (70%) Anggota DPR adalah wajah baru, meski tidak selalu berarti muda. Sebagian dari wajah baru ini adalah putra-putri dan sanak saudara keluarga pejabat negara, baik pusat maupun daerah. Bagaimana Salang menilai mereka?

"70 persen wajah baru yang menghiasi DPR bakal menjadi dilema. Sebab, 70% wajah baru tersebut bisa menjadi potensi, sekaligus menjadi hambatan DPR," ucap Salang, akhir September 2009. Menurutnya, hambatan yang akan terjadi di DPR jika yang masuk adalah orang baru yang tidak mempunyai pengalaman, atau hanya mencari nafkah di Senayan.

Penilaian lebih tegas dikemukakan pengamat politik senior, Arbi Sanit. "70 persen anggota baru itu akan lebih buruk kinerjanya dari anggota lama. Karena mereka tidak harus memenuhi persyaratan kemampuan tertentu, mereka hanya memenuhi syarat-syarat administratif," tegas Arbi.

Buku tentang Penghuni Senayan

Di dunia maya Anda bisa mengunduh nama-nama anggota DPR dan DPD periode 2009-2014. Sekilas, daftar nama unduhan itu versi awal keputusan KPU, yang diralat KPU dengan keputusan baru tanggal 15 September. Dalam keputusan baru ini ada tiga nama diganti: dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat XI Eri Purnomohadi (PAN) diganti oleh Rudy Sukendra Sindapati (PAN); dari Dapil Jawa Tengah VIII Suwardjono HW (Partai Gerindra) diganti oleh Sadar Subagyo (Partai Gerindra); dan dari Dapil Sulawesi Selatan I Dewi Yasin Limpo (Partai Hanura) diganti oleh Mestariyani Habie (Partai Gerindra).

Pergantian Dewi Yasin Limpo terkait dengan kasus yang serius: pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi (MK) kepada KPU. Untuk kasus ini MK membentuk tim investigasi. Selanjutnya berita media menyebut keterlibatan Andi Nurpati dalam kasus ini (Tempo Interaktif, 25 Oktober 2009). Pihak Dewi dan Partai Hanura juga diberitakan berencana mengajukan gugatan.

Selain data KPU di dunia maya itu, KPU juga menerbitkan buku mengenai para penghuni Senayan. Judulnya aneh: Profil Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Hasil Pemilu Tahun 2009. Aneh karena isinya tentang profil anggota DPR dan DPD, bukan profil DPR dan DPD itu sendiri. Memang, dilihat dari sisi behavioralisme, orang itu menentukan wajah lembaga (struktur).

Buku KPU ini tampaknya merupakan buku pertama tentang Anggota DPR dan DPD periode 2009-2014. Jika berkaca pada periode sebelumnya, setidaknya masih (akan) ada empat-lima buku lagi sejenis, yaitu yang (akan) diterbitkan oleh Kompas, Sekjen DPR, Sekjen DPD, dan Sekjen MPR, serta Kaukus Perempuan di Senayan. Jangan tanya padaku, apakah ada guna Sekjen DPR-DPD-MPR masing-masing menerbitkan buku profil anggotanya! Dan mengapa bukan satu buku saja yang diterbitkan bersama!

Buku Profil terdiri dari 7 halaman latin dan 257 halaman Arab, plus dua halaman ralat yang disisipkan terkait 3 (tiga) anggota pengganti yang kusebutkan di atas. Untuk setiap halaman dimuat profil 3 (tiga) anggota, yang disusun menurut partai politik (untuk DPR) dan daerah pemilihan (DPR dan DPD). Nama dan lambang partai politik dimuat di halaman muka masing-masing anggota, kecuali DPD yang “diwakilkan” dengan lambang peta wilayah Indonesia.

Identitas anggota DPR yang dicatat dalam buku Profil itu terdiri dari data: Nama (lengkap dengan gelar), Daerah Pemilihan, Tempat/Tanggal Lahir, Alamat Tempat Tinggal, Jenis Kelamin, Agama, Status Perkawinan (plus nama suami/istri dan jumlah anak), Pekerjaan Sekarang, Pendidikan Terakhir, dan Perolehan Suara, serta foto ukuran 3x3,5 cm. Untuk anggota DPD, Status Perkawinan ditiadakan. Dalam Kata Pengantar Ketua KPU tak dijelaskan alasan penghapusan satu item profil yang penting itu. Apakah karena banyak anggota DPD beristri lebih dari satu?

Yang Lucu dan Serius

Selain itu, tak ada keterangan jumlah anggota DPR dari masing-masing partai, atau jumlah anggota DPR dan DPD berkelamin perempuan. Jika ingin tahu, Anda harus menghitungnya sendiri. Capek dech!

Karena itu, catatan berikut bukanlah catatan serius, karena bukan temuan melalui “bacaan mendetail” atas data-data yang dimuat buku Profil terbitan KPU tersebut. Catatan ini lebih karena keisengan mendapati hal-hal ganjil. Jadi, kalau ada salah-salah kate, maafin ye...

>>Kita mulai dari data Perolehan Suara. Buku Profil menyebut angka suara yang diperoleh masing-masing anggota DPR dan DPD, namun tidak menuliskan berapa angka BPP (Bilangan Pokok Pembagi) di daerah pemilihannya. Akibatnya, data Perolehan Suara kurang berguna kecuali sekadar tahu siapa mendapat suara berapa, siapa penghuni senayan dengan suara terendah atau tertinggi. Padahal, kecil dalam angka belum tentu berarti kecil dalam persentase. Hal ini berbeda dengan buku Wajah DPR dan DPD 2004-2009 terbitan Kompas (2005), yang memuat data Perolehan Suara terdiri dari: angka suara yang didapat, persentase suara (dari BPP?), dan angka BPP.

Anggota DPR yang memperoleh suara pemilih terbanyak tentu saja si bungsu dari Cikeas, Edhie Baskoro Yudhoyono, MSc. (Partai Demokrat, Dapil Jawa Timur VII), sebanyak 327.097 suara. Sedangkan anggota DPR bersuara terkecil adalah Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Partai Hanura, Jawa Tengah IV) dengan 6.005 suara, diikuti oleh H.M. Ali Yacob (Partai Demokrat, NAD I) dengan 10.045 suara.

Selain itu ada pula 3 (tiga) Anggota DPR dari Partai Golkar yang tidak tercantum keterangan perolehan suaranya (h. 68).

Di DPD, rekor suara terbanyak masih dipegang politisi (Golkar) sepanjang zaman, Prof. Dr. Ir. H. Ginandjar Kartasasmita (Jawa Barat) dengan 3.031.471 suara, sedang suara terkecil diraih senator dari Sulawesi Tenggara, Drs. H. Kamaruddin, dengan 29.385 suara.

>>Kita lewati soal pendidikan, kita lihat item Pekerjaan Sekarang. Rasanya wajar anggota DPR lama menuliskan pekerjaannya sekarang (saat mencalonkan diri) dengan: Anggota DPR periode 2004-2009 (karena ia dilarang melakukan pekerjaan semula/lain). Wajar juga kalau diisi dengan keterangan: dokter, notaris, pengacara, dosen, pensiunan PNS/Militer, artis/seniman, wiraswasta/pengusaha atau jabatan di perusahaan, atau bahkan cuma sekadar “swasta”. Banyak sekali anggota yang menulis pekerjaannya dengan swasta atau wiraswasta, tanpa kejelasan usaha. Semoga ini bukan kata lain dari bekerja serabutan, atau tanpa pekerjaan tetap.

Ternyata, di item ini ada dua fakta menarik. Pertama, ada Anggota tanpa keterangan pekerjaan, antara lain (yang namanya sudah dikenal): Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah (Partai Demokrat, Sulawesi Selatan II), Puan Maharani (PDIP, Jawa Tengah V), dan Ganjar Pranowo (PDIP, Jawa Tengah VII). Semoga saja tanpa pekerjaan bukan berarti mereka termasuk dalam kategori pengangguran (: yang bekerja kurang dari satu jam dalam seminggu, kata BPS).

Kedua, beberapa Anggota menganggap menjadi pengurus partai politik atau organisasi sosial-kemasyarakatan (ormas) dan aktivis LSM sebagai pekerjaan. Data ini dikhawatirkan bisa menjadi pembenar bagi persepsi umum bahwa partai atau ormas adalah kendaraan mencari uang. Sedang untuk LSM atau NGO, bisa dilihat secara berbeda. Untuk partai, ada Ir. Rully Chairul Azwar, MSi. (Partai Golkar, Bengkulu), Panda Nababan (PDIP, Sumatera Utara I), Drs. H. Irgan Chairul Mahfiz (Sekjen PPP, Banten III), Drs. Abdul Hakam Naja, MSi (PAN, Jawa Tengah X), dan H. Totok Daryanto, SE (PAN, DI Yogyakarta).

Karena itu, ke depan KPU harus membuat kategorisasi pekerjaan secara jelas. KPU juga perlu menghilangkan kategori “swasta” atau wiraswasta. KPU pun perlu mengadakan kategori “pengangguran” atau “tanpa pekerjaan tetap”. (Dua kalimat terakhir tak perlu dibaca dengan serius… :D). Keterangan pekerjaan haruslah “menjelaskan” jalan nafkah. Harus jelas, karena Anggota Dewan adalah pejabat publik.

Selain itu, ada pula yang naik pangkat. Misalnya, dari Tenaga Ahli DPR menjadi Anggota DPR, seperti Ir. E. Herman Khaeron, M.Si. (Partai Demokrat, Jawa Barat VIII), dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, PhD. (PDIP, Sumatera Selatan I), Yahdil Abdi Harahap, SH, MH (PAN, Sumatera Utara II), dan Drs. Zaini Rahman (PPP, Jawa Timur III). Atau Asisten Pribadi Anggota DPR menjadi Anggota DPR, seperti Amran (PAN, Sulawesi Selatan III). Ketika mereka naik, bisa saja atasannya dulu justru terusir dari Senayan.

Bujang, Dara, Bujang Lapuk, Perawan Tua

>>Status Perkawinan juga menarik mata. Ada sekitar 18 Anggota menyebut diri “belum kawin”: 9 laki-laki, sisanya (ya 9 juga) perempuan (tak ada yang menulis di luar dua kategori ini). Namun, Dhohir Farisi (lahir 1979, Partai Gerindra, Jawa Timur IV) segera meninggalkan barisan karena kepincut Yenny Wahid.

Bujang paling tua bernama Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putra (lahir 1953, PDIP, Jawa Timur I), diikuti Dr. Hj. Indrawati Sukadis (lahir 1954, Partai Demokrat, Jambi). Pertama kali melihat status Guruh “belum kawin”, aku teringat pernikahannya dengan perempuan Asia Tengah, yang belakangan diberitakan diceraikannya. Ini tentu bukan soal beda nikah dengan kawin. Soalnya mungkin administratif: apakah pernikahan dan perceraiannya itu tak tercatat dalam dokumen publik/negara kita?

Bujang termuda di antara penghuni Senayan bernama H.M. Adity Mufti Arifin, SH (lahir 1984, PPP, Kalimantan Selatan II). Tampaknya ia masih keluarga Gubernur Kalsel sekarang, H. Rudy Ariffin, juga tokoh PPP di sana. Lalu ada Ahmad Mumtaz Rais, SE (lahir 1983, PAN, Jawa Tengah VIII), penerus politik trah Amien Rais.

Namun, bujang yang paling dicari adalah pangeran bungsu dari Cikeas, Edhie Baskoro Yudhoyono, MSc. (lahir 1980, Partai Demokrat, Dapil Jawa Timur VII). Konon, sang pangeran sudah kepincut Aliya Rajasa Putri, puteri Hatta Rajasa (Ketua Tim Sukses Pilpres SBY-Boediono, Menko Perekonomian).

Sedang dara termuda di Senayan bernama dr. Verna Gladies Merry Inkiriwang (lahir 1983, Partai Demokrat, Sulawesi Tengah). Dara kelahiran Manado ini sebelum ke Senayan bekerja sebagai dokter di RSU Malalayang, Manado. (Sebenarnya di DPD ada anggota termuda, Hj. Percha Leanpuri, lahir 1986, tapu buku Profil tak memuat status perkawinan anggota DPD.

Selain itu, setidaknya ada 7 (tujuh) Anggota DPR yang tidak menyebutkan statusnya. Mereka ini layak disebut “manusia perbatasan”: jelas status kelaminnya, tak jelas status perkawinannya. Janganlah ini dipahami bahwa mereka punya kelainan syahwat seksual.

Hal lain yang menarik adalah jumlah isteri. Dari 560 anggota DPR hanya satu lelaki menyatakan beristri lebih dari satu. Dialah H.M. Anis Matta, Lc (PKS, Sulawesi Selatan I). Apakah data ini bisa menepis anggapan bahwa orang-orang PKS menyukai poligami? Aku tak tahu. Kalau soal jumlah anak, umumnya anggota DPR dari PKS memang tercatat beranak banyak.

Agama

>>Apa yang menarik dari isian item Agama. Pastinya tidak ada jawaban yang aneh. Meski demikian, ada juga anggota tanpa keterangan agama. Anehnya, 7 (tujuh) anggota tanpa keterangan agama, semuanya adalah anggota DPR dari Partai Gerindra. Kesalahan administratif atau kesalahan editing buku? Tak tahu aku.

Kesalahan juga terdapat pada nama isteri Pius Lustrilanang, SIP, MSi. (Partai Gerindra, NTT I). Pius (tanpa keterangan agama, seharusnya Katolik) tercatat beristrikan Dra. Hj. Yuyun Nuriah. Di akun facebook-nya, Pius menuliskan keterangan status perkawinannya dengan: it’s complicated.

Setidaknya ada 4 (empat) anggota DPR lain yang tercatat berbeda agama dengan suami/istri. CP Samiadji Massaid (Partai Demokrat, Jawa Timur II, Islam) tercatat telah kawin, mempunyai dua anak, tanpa keterangan nama istri. Sementara Angelina Sondakh, SE (Partai Demokrat, Jawa Tengah VI, Kristen) menyatakan telah kawin dengan Samiadji Massaid dan mempunyai seorang anak. Menurut berita, keduanya telah menikah sirri pada tanggal 28 September 2008 dan Angie masuk Islam. Keduanya meresmikan pernikahan di KUA Pulogadung, Jakarta Timur pada 29 April 2009.

Pernikahan Jamal Mirdad (Partai Gerindra, Jawa Tengah I, Islam) dengan Lidya Kandau (Kristen) tercatat sebagai perkawinan beda agama pertama yang kontroversial. Menikah 1986, status hukum perkawinan baru didapat dari pengadilan pada 1995. Demikian juga Nurul Arifin (Partai Golkar, Jawa Barat VII, Islam), yang bersuamikan RMCF Suryo Laksono—yang disapa Mayong (Katolik).

Apakah Jamal Mirdad dan Nurul Arifin akan berjuang untuk mengubah UU Perwakinan terkait larangan perkawinan beda agama? Dalam sebuah seminar keluarga Katolik yang diadakan Paroki St Anna, Mayong malah berpesan sebaliknya: Berusahalah untuk mengurangi perbedaan tersebut dengan mencari pasangan yang seiman."

Jakarta, 31 Oktober 2009

Friday, October 9, 2009

Haji (05): Rehat dan Cobaan

.

Jamaah haji Indonesia umumnya mengambil haji jenis tamattu’ (kira-kira bermakna: menyenangkan). Meski ada jenis haji lain, yaitu qiran dan ifrad, namun Nabi Muhammad SAW lebih mendorong umatnya agar berhaji dengan jenis ini.[1] Dalam haji tamattu’, setelah melakukan umrah dan tahallul (penghalal dari larangan-larangan umrah), maka calon haji melapaskan pakaian ihram dan memakai pakaian biasa hingga datang hari tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah. (Untuk itu, calon haji harus membayar dam, berupa seekor kambing. Apabila ia tidak mampu membayar dam, ia harus berpuasa 10 hari: tiga hari di tanah Haram dan tujuh hari setibanya di tanah air.)

Selesai menunaikan umrah, rombongan kami kembali ke Wisma Rabithah Alam Islamy di Mina. Bagiku, ini adalah penunaian umrah wajib. Setelah makan siang di kantin Wisma, kamipun berganti pakaian biasa. Pada jam 8 malam, A.M. Fatwa mengajak aku keluar dari Mina menuju Mecca Grand Coral, hotel tempat inap Rijalul Haq dan Dian Islamiati, kedua anaknya yang termasuk dalam rombongan Tamu Raja. Sayangnya, supir taksi yang kami naiki tak tahu hotel ini. Untuk memastikan lokasi hotel, via HP Rijal, aku berbicara dengan petugas hotel. Meski begitu, karena sang supir tak tahu pasti jalan dimana hotel ini berada, Jl. Ummul Qura, taksi kami berputar satu dua kali di dekat al-Haram.


Ternyata, Mecca Grand Coral berdiri sekitar 200-300 meter dari Masjid al-Haram, arah Jabal (gunung) Umar. Gunung ini sudah tak tampak lagi, sudah “dipenggal” untuk kepentingan pengembangan jalan. Bagian besar gunung ini berupa tanah datar kosong, entah akan berdiri bangunan apa di atasnya.


Di hotel hanya ada Rijal, putera bontot A.M. Fatwa. Sedang Dian tak jelas rimbanya: tak dapat dihubungi via telepon. Sebagai wartawan, Dian mungkin sedang berburu pesona kota Mekkah.


Fatwa, Rijal, dan aku berbincang-bincang di ruang lobby, duduk di bangku panjang dengan disain khas Arab. Saat obrol-obrol ini duduk bersama kami beberapa rombongan tamu, yang silih berganti, antara lain calon haji dari Australia. Mereka, tampak bukan orang Barat, karena berbicara dalam dialek Arab aammiyah (kampung) yang unik. Yang menarik perhatianku: seorang wanita muda—jauh lebih muda dari wanita-wanita di sekitarnya—asyik saja duduk merokok. Tak ada petugas hotel yang menegur.


Tak Bisa Masuk Mina (1)

Mendekati jam 12 malam, aku dan A.M. Fatwa keluar dari hotel, naik taksi menuju pondokan kami di Mina. Ternyata, semua jalan masuk, seingatku ada tiga jalan, menuju Mina ditutup, dijaga oleh tentara (askar). Pertama taksi kami distop, aku turun dari taksi dan berbicara dengan askar (tentara), lalu dengan komandannya. Aku jelaskan bahwa aku bersama seorang wakil ketua parlemen dari Indonesia. Tetapi, tetap saja izin masuk tidak kudapat.


“Tidak boleh ada yang masuk Mina,” kata askar itu. Hal ini juga diucapkan komandannya.

“Sampai kapan penutupan ini?” tanyaku.

“Sampai hari pelaksanaan haji,” jawabnya.


Wah, jika informasi ini benar, berarti kami harus menunggu sampai tanggal 8 Dzulhijjah, hari tarwiyah, dimana jamaah haji berkumpul di Mina. Masih 3 (tiga) hari lagi. Ini bukan kabar yang baik, tentu saja. (Sebenarnya Mina merupakan bagian dari kota Mekkah, masih berada dalam wilayah haram, terlarang).


Maka kami mencari jalan masuk lain ke Mina. Di jalan masuk yang kedua, askar yang jaga juga tidak membolehkan kami masuk Mina. Di sini aku bertemu dengan dua anak muda lokal: setelah tahu bahwa aku bersama wakil ketua parlemen Indonesia, keduanya mau membantuku berbicara dengan pimpinan askar dalam bahasa Arab aammiyah, tapi tetap tak menghasilkan izin masuk.


Taksi membawa kami ke jalan masuk ketiga, Jl. Malik Khalid, dari arah Aziziyah. Kedua anak muda Arab tersebut ikut dalam taksi, duduk di kursi belakang bersamaku. Kembali lobby dengan komandan askar tak membuahkan hasil. Supir taksi dan dua anak muda itupun menganjurkan kami berjalan kaki saja melewati terowongan.


“Tidak terlalu panjang terowongannya,” kata mereka. “Wisma Rabithah ada di ujung terowongan ini,” tambahnya.


Tetapi aku yang belum mengetahui teowongan itu tentu berpikir menjaga keselamatan pak A.M. Fatwa. Kulihat PDA-ku: Waktu sudah menunjukkan lewat jam 1 dinihari. Karena itu, dengan persetujuan pak Fatwa, taksi kuminta kembali ke Mecca Grand Coral. Kedua anak muda itupun turun dari taksi kami. Aku mengucapkan terima kasih, dan mereka tampak tersenyum senang sudah membantu.


Tiba di hotel, kami beruntung. Ada petugas Tamu Raja yang mengenali A.M. Fatwa, yang musim haji tahun sebelumnya menjadi Tamu Khusus Raja. Panitia Tamu Raja menyetujui memberi inapan kepada kami.


“Tapi hanya untuk satu orang,” katanya.

Alhamdulillah, ya tak mengapa. Biar pak Fatwa saja yang menginap. Saya bermaksud ke al-Haram,” kataku.


Mencium Hajar Aswad

Kemudian petugas itu membawa pak Fatwa masuk. Aku segera bergegas ke Masjid al-Haram. Lupa, apa dengan naik bus hotel, atau berjalan kaki. Dinihari ini arus jamaah thawaf tidak tampak surut. Seolah tak ada beda malam, atau dinihari, dengan siang hari. Aku bertekad untuk thawaf sunnah dan mencium Hajar Aswad.


Pada putaran thawaf ke-2, aku istirahat di Hijr Ismail untuk shalat sunnah dua rakaat. Setelah berdoa, termasuk doa-doa titipan keluarga dan teman-teman, aku melanjutkan thawaf. Di awal putaran ketiga ini, aku melihat ada celah arus yang lemah di depan pintu Ka’bah. Aku berjalan ke arah pintu, terus bergeser ke arah kiri sedikit demi sedikit. Berhasil berdiri di Multazam, antara pintu dan Hajar Aswad, aku berdoa. Sambil berdoa, aku bergeser sedikit-sedikit ke arah Hajar Aswad. Meski Hajar Aswad sudah begitu dekat, kulihat ada seorang pria tinggi berkulit hitam yang menghalangi orang-orang yang hendak mencium Hajar Aswad. Ia mengutamakan rombongannya dulu. Begitu rombongannya selesai, tibalah kesempatanku. Akupun memasukkan kepalaku ke lobang batu hitam tersebut.


Aku mencium Hajar Aswad dinihari Jum’at, 14 Desember 2007. Begitu haru. Aku teringat ucapan sahabat Umat bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu: “Kalau Rasulullah tak menciummu, tentu aku tak kan menciummu.”[2] Ya, demikianlah, dalam sebuah hadits shahih, Hajar Aswad akan menjadi saksi di hari perhitungan nanti bagi orang-orang yang menciumnya.[3]


Setelah beberapa detik mencium, akupun menarik diri. Ternyata, keluar dari sini membutuhkan perjuangan yang justru lebih berat, karena aku harus melawan arus orang-orang yang hendak mencium Hajar Aswad. Dengan tinggi badan hanya 160 cm, aku silangkan tanganku ke dada. Tas Eager hitam yang aku bawa tertarik ke belakang. Tali pengikat kartu tanda Tamu Rabithah putus; untung aku sempat melihatnya dan segera berhasil meraihnya.


Keluar dari kumparan arus Hajar Aswad, aku melanjutkan putaran ke-3 thawafku. Namun, aku segera sadar, tenagaku terkuras. Aku ngos-ngos, mengalami kelelahan yang sangat. Tiba di al-Hatim, tembok sedada yang memisahkan Hijr Ismail dari wilayah thawaf, aku menyandarkan tubuhku ke tembok ini. Seorang pria kulit putih yang berdiri di sisi kiriku, yang melihat aku amat kelelahan, memintaku duduk di atas al-Hatim.


Pria yang baik hati itu lalu memeriksa detak jantungku dengan tangannya. Ia memegang telapak tanganku dan melakukan pijatan-pijatan tertentu. Setelah itu, tenagaku pun pulih. Aku pun permisi untuk melanjutkan thawaf.


Ketika mau memulai putaran ke-6, terdengar adzan Subuh. Akupun shalat shubuh. Duduk di sebelahku calon haji dari Jawa Barat. Ia membawa mushaf al-Qur’an cetakan “standar Indonesia”. Aku jadi teringat, banyak Muslim Indonesia yang tidak bisa membaca al-Qur’an mushaf utsmani—cetakan negari-negari Arab. Setelah shalat Shubuh, aku melanjutkan thawaf putaran ke-6 dan ke-7.


Pagi itu, ketika para pegawai cleaning service—yang memakai baju seragam bertuliskan “Bin Laden”—mulai bekerja, aku kembali ke Mecca Grand Coral, dengan naik bus hotel dari tempat parkir di lantai basement Masjid al-Haram.


Tak Bisa Masuk Mina (2)

Di Hotel aku masih dapat sarapan pagi sajian Tamu Raja bersama A.M. Fatwa, Rijal, dan Dian. Ternyata, pada dinihari tadi, pak
Fatwa ditempatkan dalam satu kamar bersama calon haji dari Malaysia. Entah karena teringat ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia yang sedang “panas-dingin” waktu itu, dinihari itu Fatwa tak dapat tidur. Menurutnya, iapun keluar kamar, dan duduk-duduk di lobby hotel.

Setelah sarapan pagi, aku menelpon Didi, staf Konjen RI di Jeddah. Mobil Vitara putih dikirim oleh pihak Daerah Kerja (Daker) Mekkah ke hotel. Dengan mobil ini, meski ragu, kami pun menuju Mina. Kembali, kami tak bisa masuk Mina.


Kami meminta supir mengantar kami ke kantor Daker di distrik Aziziyah. Di kantor Daker ini kami bertemu dengan Kepala Daker,
Wardhani Muchsin. Pak Fatwa juga berbicara (tanpa kesertaanku) dengan Menteri Agama Maftuh Basyuni, selaku Amirul Hajj, yang kebetulan sedang berada di kantor Daker. Kepada wartawan yang mencegatnya setelah pembicaraan ini, Fatwa mengemukakan isi pembicaraannya, antara lain soal konsumsi jamaah haji secara katering—yang dilihatnya telah mengalami kemajuan dari musim haji sebelumnya.

Setelah bincang-bincang dengan Menag dan menjawab pertanyaan beberapa wartawan, pihak Daker memberi kami tumpangan mobil bertuliskan “safaarah” Kedutaan Besar RI. Tentu dengan petugas Daker ikut mengantar, serta seorang wartawan ANTARA. Tetap saja mobil ini tak diizinkan memasuki Mina.


Untuk kedua kalinya kami kembali ke kantor Daker. Kali ini mobil kami diberi stiker segi empat bertuliskan “
izin masuk masy'aril muqaddasah”, yaitu Mina, Muzdalifah, dan Arafah. Namun, tetap saja askar yang jaga melarang mobil kami memasuki Mina. Susah memang bicara dengan tentara bawahan, begitu gerutu yang kudengar.

Teringat bahwa mobil Tamu Rabithah ‘Alam Islamy mungkin bisa keluar-masuk Mina, aku coba kontak teman-teman rombongan. Alhamdulillah, untuk shalat Jum’at ini ada mobil Rabithah yang mengangkut tamu ke Masjid al-Haram. Kami membuat janji, entah dengan Prof. Edy S. Hamid atau Prof. Muhammad Chirzin (ketua rombongan kami), bertemu setelah shalat Jum’at.


Atas usul wartawan ANTARA, kami setuju datang ke Sektor Khusus Haji Indonesia, yang dikenal sebagai
pos khusus di sekitar Masjid al-Haram yang menangani jamaah haji Indonesia yang tersesat jalan. Sektor Khusus ini berada dekat pintu Ka’bah yang bernama Baab al-Salaam.

Kami
disambut Ketua Pos Khusus, Alisin N. Tatroman dan mendengarkan keluhan beberapa jamaah Indonesia dan pihak petugas Pos. Seorang petugas yang mengagumi perjuangan A.M. Fatwa terkejut melihatnya datang dan langsung mencium tangan Fatwa. Dokter jaga ini, dr. Muslimin dari TNI AU, memeriksa tekanan darah Fatwa, yang naik menjadi 150. Ini di atas normal, meski tekanan darah tertingginya pernah mencapai 160. Fatwa pun diberi obat.

Setelah shalat Jum’at dari lantai atas Pos Khusus ini, kami kembali kontak dengan teman-teman rombongan Tamu Rabithah. Mobil menunggu di depan Hotel Le Meridien. Cukup jauh jarak antara Pos Khusus (atau pintu al-Salaam) dan Hotel Le Meridien, yang terletak di sisi kiri Wisma Negara. Tiga atau empat orang petugas Pos Khusus mengantar kami, menembus arus jamaah yang pulang shalat Jum’at. Setelah bertemu dengan teman-teman Tamu Rabithah, para petugas Pos Khusus kembali, juga wartawan ANTARA. Hanya ucapan terima kasih yang bisa kami sampaikan.


Dengan mobil Rabithah kami berhasil kembali ke Mina. Di mobil yang penuh sesak ini aku—yang merasa masih muda ini—memilih berdiri saja dekat pintu. Pak Fatwa, alhamdulillah, bisa duduk. Di pintu masuk Mina, mobil sempat distop petugas, tetapi sebentar saja, lalu dipersilakan jalan. Mobil ini tentu saja bertuliskan Rabithah, dan berstiker izin masuk Masy’aril Haram (Mina-Muzdalifah-Arafah). Berbeda dengan stiker mobil Daker yang bersegi empat, yang gagal mengantar kami ke Mina, stiker mobil Rabithah berbentuk bulat, meski isi tulisannya sama. Apakah supir membawa surat izin lain, aku tak tahu.


Selama tiga hari menjelang Hari Tarwiyah, dengan bus Rabithahlah kami keluar masuk Mina, antara lain untuk menghadiri pembukaan muktamar Rabithah ‘Alam Islamiy (yang ‘kan kuulas di tulisan berikutnya, in syaaAllah). Ke al-Haram, bus mengangkut calon haji yang baru tiba untuk menunaikan umrah. Setelah tak ada tamu baru, bus tidak jalan, sehingga kami yang bermaksud shalat atau thawaf di Masjid al-Haram harus berjalan kaki di sepanjang terowongan (jalan masuk ketiga di atas), untuk selanjutnya naik kendaraan umum atau taksi, resmi atau swasta. Dari wilayah Aziziyah ini ke al-Haram, kami membayar sekitar 5-15 riyal per orang. Harga tak tentu.


Pada Ahad sore, 16 Desember, kembali aku menemani A.M. Fatwa ke Mecca Grand Coral. Setelah melewati terowongan Jl. Malik Khalid dengan jalan kaki, kami tak menyebrang jalan (seharusnya menyebarang). “Apakah angkutan ini melewati Jl. Ummul Qura?” tanyaku. “Ya,” jawab kenek. Tetapi, ternyata kami diturunkan di jalan yang jauh dari Ummul Qura. Melihat lautan manusia berjalan kaki menuju al-Bait al-‘Atiq (rumah tua) yang agung itu, Fatwa—yang telah berumur 69 tahun—bermaksud balik ke Mina setelah shalat di masjid terdekat yang bisa dicapai saja. Tak perlu ikut berdesakan mencapai al-Haram, untuk selanjutnya mencapai hotel tempat inap Tamu Raja.


Beruntung aku mendapatkan taksi swasta setelah menunggu agak lama. Dan setelah putar-putar kami diturunkan di ujung jalan dari Jl. Ummul Qura (jika dilihat dari arah al-Haram). Jalan masuk al-Haram ini juga ditutup menjelang Maghrib itu, karena digunakan pejalan kaki yang hendak shalat wajib berjamaah di al-Haram.


Lebih satu kilometer kami berjalan kaki hingga mencapai Mecca Grand Coral. Kepergian kali ini untuk memenuhi permintaan Dian yang ingin bicara empat mata dengan ayahnya.


Kami naik bus hotel ke Masjid al-Haram. Fatwa dan Dian bicara berdua, entah di lantai berapa al-Haram. Sedang aku dan Rijal pergi belanja sedikit keperluan di toko kelontong sekitar al-Haram, sekalian aku menukar uang Rupia ke dalam Riyal. Money changer di sini sederhana saja, hanya ruko kecil. Pedagangnya keturunan India. Ternyata, nilai kurs Rupiah terhadap Riyal di sini lebih tinggi daripada nilai tukar di tanah air, seperti di beberapa money changer di bilangan Sabang yang aku datangi sehari sebelum keberangkatan haji.


Setelah itu, aku dan Rijal berjalan menuju halte bus bawah tanah al-Haram. Namun, arus pulang jamaah shalat dari al-Haram, yang belum juga selesai, memaksa kami menepi ke dalam sebuah toko, ternyata toko emas. Pegawai toko ini semula meminta kami keluar, tetapi aku dan Rijal diam saja. Setelah ia membaca kartu Tamu Raja yang menggantung di dada Rijal dan kartu Tamu Rabithah di dadaku, ia tersenyum kecut dan membiarkan kami berdiri di sudut tokonya. Aku tersenyum dan berkaca-kaca ketika kuberitahu Rijal bahwa pegawai toko itu takut juga pada tanda pengenal yang ia pakai.


Hikmah

Saya diingatkan Allah, kata Fatwa kepada wartawan ANTARA yang bertanya mengenai hikmah dari kejadian sulit memasuki Mina tersebut di atas. Fatwa teringat, tahun lalu ia berhaji atas undangan khusus Raja dan dapat fasilitas nan enak, seperti inap di Wisma Negara di samping al-Haram. Padahal tahun itu banyak jamaah haji Indonesia kelaparan saat berada di Arafah dan Mina.

Siapa pun di tanah suci, harus introspeksi. Jangan karena pejabat, lalu mau enak sendiri,” tegas Fatwa tentang peringatan yang ia maksud.

Tentang “hukuman” yang kembali terjadi ketika pergi ke Mecca Grand Coral pada Ahad, 16 Desember, seolah aku merasa, setiap menuju al-Haram tapi tidak ada rencana untuk shalat/thawaf di rumah Allah ini, ada saja “hukuman” yang harus kami terima. Seperti salah jalan, atau supir taksi swasta yang tidak tahu jalan (untuk tidak menyebutnya supir nakal yang mutar-mutar untuk minta tambahan bayaran). Pulang pada malam hari ini pun kami sedikit tersasar.


Aku sendiri, bersama anggota rombongan lainnya yang muda-muda, beberapa kali ke al-Haram untuk shalat wajib berjama’ah. Pulang dan pergi dengan angkutan umum. Pernah, suatu kali, aku memisahkan diri dari rombongan untuk suatu keperluan, yaitu menjenguk maktab paman dan bibiku yang juga melaksanakan haji tahun ini. Semua lancar saja, alhamdulillah.


Transfortasi memang menjadi masalah krusial bagi jamaah Indonesia selama di Mekkah, di samping masalah penginapan (jarak yang jauh dari al-Haram dan fasilitas yang minim), serta konsumsi. Dengan jumlah calon haji di atas 200.000 orang, pemerintah Indonesia cq Departemen Agama hanya mendapat izin 40-50 bus untuk sarana transformasi jamaah.
Jumlah bus yang amat tidak mencukupi!

Catatan:

Tulisan ini membantah sebagian isi artikel
Edy Supriatna Sjafei,Di Tanah Suci Saya Diingatkan Allah, Kata AM Fatwa, di http://antara.co.id/print/?i=1197775086.



[1] Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, Haji dan Umrah Seperti Rasulullah (Jakarta: Geman Insani Press, 1994), h. 24-37. Kitab al-Albani ini diterbitkan pula dengan judul berbeda oleh penerbit lain, seperti: Haji Nabi sejak Berangkat dari Madinah hingga Kembali, Seakan-akan Anda Menyertainya oleh penerbit al-Qawam, Solo, dan Panduan Manasik Haji dan Umrah oleh Pustaka At-Tibyan, Solo.
[2]
Umar bin al-Khattab radhiyallaahu ‘anhu mengecup Hajar Aswad dan berkata, “Aku tahu kamu hanyalah sebiji batu yang tidak memberi musibah maupun memberi manfaat. Jika tidak karena aku telah melihat Rasulullah SAW mengecupmu, aku tidak akan melakukannya.(Sahih al-Bukhariy No. 1597, Sahih Muslim No. 1270)
[3]
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah SAW berkata: “Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada Hari Kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah menyentuhnya dengan ikhlas dan benar. (HR al-Baihaqiy)

Saturday, September 5, 2009

Fadhail al-A’mal yang Produktif dengan Nash Shahih

Ibadah bukanlah soal menghitung-hitung kebaikan dan pahalanya. Ini soal memanfaatkan waktu yang terbatas dengan amalan-amalan yang efektif membuahkan bekal melimpah setelah mati. Ini soal percaya akan rahmat Allah yang amat luas.

Fadhail al-A’mal yang Produktif dengan Nash Shahih
Oleh: Saripudin H.A.

Sabtu pagi seminggu lalu aku datang ke Masjid al-Furqan, Jakarta Pusat. Ketika kaki melangkah masuk ke ruang shalat Masjid, acara sedang berlangsung. Seseorang, dipanggil ustadz tentu saja, sedang berbicara di hadapan beberapa puluh pendengarnya. Aku mengenal ustadz itu, Farid Ahmad Okhbah, MA. Dulu, hingga 1996, ia bekerja menjadi pustakawan di Maktabah LIPIA, Jl. Salemba Raya 32, samping kanan Departemen Sosial RI. Setelah itu kudengar ia melanjutkan studi di Australia, dan entah selanjutnya atau sebelumnya di Arab Saudi, bagian selatan pada seorang ulama terkenal kedua di sana setelah Syeikh Bin Baaz.

Bukan “kelas” ini yang mau kudatangi, gumamku sedikit sesal. Dan kaki pun sudah hendak melangkah keluar ruangan. Namun, tertahan. Ada kata-kata menarik diucapkan Ustadz Okhbah. Hatiku berhenti menggerutu dan betah tertahan di ruangan itu, hingga ceramah dhuha selesai dan dilanjutkan shalat Zhuhur berjama’ah.

Kata-kata menarik dari Ustadz Okhbah itu adalah ajakannya untuk mengefektifkan amal agar usia yang tersisa menjadi produktif, dengan melakukan fadhail al-a’mal (amalan ibadah yang mempunyai keutamaan pahala) berdasarkan nash yang shahih dan hasan. Hal ini menarik, bukan saja karena usia kita yang singkat dan amal ibadah yang sedikit, tetapi juga karena ia menyebut nash yang shahih dan hasan untuk fadhail al-a’mal. Bagi banyak orang, fadhail al-a’mal sering dilakukan walaupun dengan kualitas rujukan hadits yang dhaif (lemah) dan dhaif sekali.

Sambil mengangkat sebuah buku kecil, Ustadz Okhbah memberi contoh shalat Isyraq sebagai amalan ibadah “ringan” tapi berbuah pahala berlimpah, yaitu shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan saat matahari terbit (syuruq)—di Indonesia sekitar pukul 6 pagi. Menurut Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah SAW berkata,

“Barangsiapa shalat Shubuh berjamaah, lalu duduk berdzikir hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat, maka baginya balasan seperti orang yang berhaji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” [Hadits riwayat al-Tirmidzi, dengan kualitas hasan. Lihat hadits Shahih al-Tirmidzi No.480]

Ustadz Okhbah memberi contoh-contoh lain, sembari berkata bahwa contoh-contoh yang ia sebutkan ada di buku kecil tersebut. Karena datang terlambat saya tak tahu judul buku yang ia maksud. Setelah cemarah dhuha selesai dan shalat Zhuhur berjamaah, telepon dari kampong masuk ke HP-ku. Begitu selesai menerima telepon, tak kulihat lagi Ustadz Okhbah ada di ruangan. Hilanglah kesempatan untuk sekadar bertegur sapa dengan orang yang lama tak bertemu, lebih 13 tahun.

Ketika mau pulang, di lantai dasar Masjid al-Furqan ada beberapa pedagang buku. Beberapa, wajahnya, sudah kukenal lama. “Buku apa ya yang tadi dibicarakan Ustadz Okhbah?” tanyaku kepada salah seorang pedagang, yang juga tadi menjadi pendengar ceramah Ustadz Okhbah tadi. Ia menunjukkan buku yang kutanya, Manajemen Umur: Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia, ditulis oleh Muhammad bin Ibrahim al-Nu’aim. “15.000,” katanya soal harga. Aku pun membelinya.

Buku Manajemen Umur ini adalah buku terjemahan, aslinya (Kayfa Tuthiylu Umraka al-Intaajiy) terbit tahun 2001 (cetakan ke-3), sedang terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh Pustaka at-Tazkia (Jakarta) terbit pertama 2005. Buku yang ada di tanganku ternyata cetakan keempat, 2008. Hadits-hadits dalam buku ini di-takhrij oleh ulama ahli Hadits, seperti al-Arnauth dan al-Albani.

Soal shalat Isyraq yang disebut Ustadz Okhbah ada di halaman 74-75. Seingatku, aku pernah membaca soal adanya sunnah shalat di pagi hari itu, tapi aku memandangnya sebagai shalat Dhuha. Ternyata, shalat Isyraq berbeda dari shalat Dhuha. Antara lain, soal bilangan rakaat dan waktu. Shalat Isyraq hanya dua rakaat, sedang shalat Dhuha boleh dua atau empat rakaat. Shalat Isyraq dilaksanakan ketika matahari terbit, sedang Shalat Dhuha ditunaikan ketika “anak unta berdiri karena terik matahari”, yaitu ketika sinar matahari meninggi.

Juga faedah kedua shalat itu berbeda. Shalat Dhuha adalah shalat untuk menunaikan sedekah atas tiap persendian yang ada di tubuh manusia, berjumlah 360 buah (hadits shahih riwayat al-Thabari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu serta Muslim dan Abu Daud dari Abu Dzar al-Ghifariy radhiyallaahu ‘anhu—h. 66-69). Pahala shalat Dhuha seperti umrah sunnah (h. 78). Sedang balasan shalat Isyraq, sebagaimana disebut di atas, adalah pahala haji dan umrah. Selain itu, seingatku, doa sunnah setelah shalat Dhuha adalah permohonan kepada Allah untuk percepatan rizki, jodoh, dan sebagainya—sayangnya hal akhir ini tidak disebut dalam buku ini.

# # #

Ketika membuka dan membaca halaman demi halaman buku ini, aku teringat pada adik nenekku dari garis ibu. Suaminya (alm.) adalah ustadz dari kampung lain, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, sedang organisasi yang menyelenggarakan pendidikan Islam di kampung kami adalah Mathla’ul Anwar—yang dikenal cukup modernis. Sering, ketika aku pulang kampung, adik nenek itu memintaku untuk menerjemahkan doa atau dzikir berbahasa Arab yang didapatnya. Akupun menerjemahkannya. Kadang ia menceritakan manfaat doa atau dzikir tersebut. Kadang, aku yang bertanya didapat dari siapa doa atau dzikir ini dan untuk apa.

“Ini Sarip nggak tahu apa benar berasal dari Nabi,” kataku ketika mendapati doa atau dzikir yang diminta terjemahannya itu tak kutahu apakah ma’tsur (berasal dari Rasulullah SAW) atau tidak. Karena itu, kadang akupun menganjurkannya untuk berdoa atau berdzikir saja dengan doa dan dzikir yang sudah pasti kebenaran rujukan sumbernya dari Nabi Muhammad SAW, yang sudah dihapalnya.

Berdoa dan berdzikir dengan doa atau dzikir yang ma’tsur jelas lebih menguntungkan. Pertama, pelakunya tentu saja mendapat pahala doa/dzikir sebagai ibadah—sepanjang dilakukan dengan ikhlas. Di samping itu, kedua, doa atau dzikir yang ma’tsur itu sunnah Nabi SAW. Mengerjakannya tentu berpahala sunnah. Beruntunglah orang yang menghidupkan sunnahnya di akhir zaman ini.

Di antara ulama memang ada beda pendapat. Misalnya, al-Subki menyatakan boleh mengamalkan hadits dhaif (lemah), dengan syarat hadits itu tidak terlalu lemah. Inilah yang secara kultural berkembang dalam masyarakat kita yang tradisional. Sedang saya kurang suka beribadah atau ber-fadhail al-a’mal dengan hadits dhaif. Kenapa? Karena hadits shahih dan hasan untuk fadhail al-a’mal saja begitu banyaknya, dan betapa sedikitnya yang mampu saya kerjakan, apalagi yang bersifat terus-menerus (dawaam)—sebagaimana diperintahkan Nabi SAW.

Shalat Dhuha-ku sedikit sekali, Tahajjud pun begitu, juga shalat-shalat Rawathib yang menyertai shalat wajib. Demikian pula sunnah dzikir dan doa di pagi dan sore hari, kadang kubaca, kadang terlupa oleh sikap lalai duniawi. Hapalan doa dan dzikir-ku pun terbatas. Ini dulu efek ku tak suka dengan sistem belajar menghafal—seperti berlaku di LIPIA. Juga, tentu saja, karena kelalaian mengikat diri dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

Setelah membaca buku ini, kian terbukalah wawasan dan pengetahuanku, betapa begitu banyak lagi amalan yang berbuah pahala begitu besarnya yang aku lalaikan, padahal dalilnya kuat. Karena itu, maaf ya, nggak ada waktu, dan akan terasa sia-sia jika waktu itu dihabiskan, untuk melakukan praktik-praktik ibadah yang meragukan.

# # #

Buku Manajemen Umur ini, bukan saja membahas doa atau dzikir yang pahalanya berlipat ganda (h. 125-141), tetapi juga memuat perbuatan-perbuatan sunnah lainnya yang berpahala melimpah, seperti shalat-shalat sunnah tertentu dan di tempat-tempat tertentu, puasa-puasa tertentu, umrah di bulan Ramadhan, menghajikan orang lain, adzan, hadir di majelis ilmu, jihad, dan meringankan beban orang lain. Pahala shalat wajib di masjid, misalnya, bukan saja pahala 25 derajat shalat berjamaah, tetapi jalan kaki ke masjid dalam keadaan bersuci saja pahalanya seperti haji. Belum lagi pahala shalat di shaff pertama atau kedua (h. 77-79).

Tak lupa di awal buku dibahas secara teologis seputar umur dan panjang umur, lalu perbuatan-perbuatan yang bisa menyebabkan panjang umur seperti silaturrahmi, akhlak mulia, dan memuliakan tetangga. Dibahas pula perbuatan-perbuatan lain yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya sudah meninggal dunia, seperti ribath, sedekah jariah, mendidik anak menjadi shalih, dan mengajarkan ilmu. Hal yang penting pula diperhatikan adalah bahasan terakhir agar umur tetap produktif, seperti mengenai dosa-dosa yang menghapus kebaikan, dan perbuatan yang tak berhenti buah dosanya meskipun pelakunya sudah mati.

Sebagian orang akan bilang, ibadah ko mengharapkan pahala, atau menghitung-hitung pahala. Aku akan balik bertanya, siapa sih manusia yang bisa menghitung pahala dan dosanya! Tak ada. Ibadah ya kita laksanakan dengan harapan akan rahmat Allah, termasuk harapan melihat wajah-Nya pada hari akhir sebagai puncak nikmat. Ibadah juga harus ditunaikan dengan rasa takut akan azab-Nya. Di samping itu, tentu saja ibadah harus disertai rasa cinta pada Allah, juga pada Rasul-Nya, yang telah memberi petunjuk dan sebaik-baik contoh dalam pelaksanaan ibadah.

Jadi, ini bukan soal menghitung-hitung kebaikan dan pahalanya. Ini soal memanfaatkan waktu yang terbatas dengan amalan-alaman yang efektif membuahkan bekal melimpah setelah mati. Ini soal percaya akan rahmat Allah yang amat luas.[]

Catatan:
Maksud awal ke Masjid al-Furqan di Kompleks DDII Jl. Kramat Raya 45 adalah hendak menghadiri acara peluncuran buku Adian Husaini tentang Pancasila, yang berlangsung di Aula Masjid. Masjid yang didirikan tokoh-tokoh Masyumi ini terdiri dari tiga lantai: dasar (kantor DDII, bank BMI), 1 (aula, toko buku) dan 2 (ruang shalat). Setelah Zhuhur aku hadiri lanjutan diskusi buku ini, yang menampilkan penulisnya Adian Husaini, dan pembahas Prof. Rifyal Ka’bah (Hakim Agung MA).

Thursday, August 27, 2009

Maaf, Aku Tak Sempurna

oleh: Saripudin H.A.

MENJADI sempurna merupakan cita-cita kemanusiaan. Di Barat, bukan saja ada Wonder Woman yang mempesona secara fisik, tapi juga ada Superman, baik di dunia komik dan film, maupun di ranah filsafat (dari Friedrich Nietzsche). Dalam filsafat Timur dikenal pula frasa "insan kamil", entah berasal dari Ibnu Arabi (jauh sebelum Nietzsche), atau Muhammad Iqbal. Ada kebutuhan secara esoteris untuk menjadi lebih baik, daripada sekadar baik. Baik saja dianggap tidak cukup.

Dalam terma ajaran, masuk Islam harus dilakukan secara kaaffah, menyeluruh. Ini perintah Allah Ta'aala langsung (Q.S. al-Baqarah 2:208). Bukan iman pada sebagian ayat dan kafir pada bagian lain--seperti perilaku Bani Israel (Q.S. al-Baqarah 2:85). Di antara umat Muslim, ada pula yang beriman pada sebagian ayat dan menundukkan ayat lain pada paham-paham dari Barat--dengan mencari tafsiran baru yang dipandang "tidak memalukan". Suatu sikap yang bisa masuk dalam jebakan setengah-tengah itu.

Begitulah, memang, keterasingan atau keanehan Islam merupakan sesuatu yang sudah diafirmasi oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. "Islam pada awalnya itu asing dan akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang (dianggap) asing!” kata Nabi, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim (no. 145). Sejatinya, tak ada inferiority complex pada kebudayaan apapun!

Zaman asing itu sudah lama datangnya. Yaitu sejak inferiority complex pada Barat menghinggapi kalangan terdidik kita di masa kolonial.

# # #

Beberapa tahun lalu seorang teman yang bekerja, lalu kuliah, di Bekasi pulang ke kampung kami, di Karawang, Jawa Barat. Jika dulu ia suka mematut dirinya karena ganteng dan berpakaian yang "sesuai", dalam kepulangan kali ini ia mengenakan pakaian yang mengganggu mata. Bukan kesederhanaan pakaiannya yang bikin heboh, eh bisik-bisik tetangga, tetapi "model" yang dikenakannya yang tak lazim. Atasannya baju koko (ini mah biasa), dengan padanan bawahan celana panjang di atas mata kaki.

Celana itu, sebenarnya, menyerupai celana kolor gombrong (longgar) yang biasa dipakai orang kampung kami dan para jawara Betawi, yang umumnya juga di atas mata kaki. Namun, celana itu menjadi aneh ketika dipadankan dengan baju koko saja, tanpa peci (hitam) dan kain sarung yang diselempangkan! Sementara kolor orang kampung, dipakai untuk saat santai saja, dan kini pun sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan keterasingan di mata para tetangga, aku yang pernah kuliah di LIPIA melihatnya dengan penuh mafhum dan maklum. Di kampus LIPIA, pakaian demikian mudah terlihat dikenakan mahasiswa dan dosen, serta tamu-tamu yang datang, baik yang bergaul dalam komunitas Salafiy maupun bukan. Ketika aku berbicara dengan teman tersebut, tahulah aku bahwa ia sudah "ngaji" Salafiy--atau Wahabiy dalam terminologi minor kaum liberalis.

Tetapi, keanehan dalam bisik-bisik tetangga tidak berlangsung lama. Seorang bapak, masih terhubung keluarga denganku, segera teringat pada kain sarung yang biasa dikenakan oleh KH Suhaimi (alm.) dulu. "Engkong Kiai juga dulu pakai sarung di atas mata kaki," katanya. "Jadi, ini bukan ajaran yang salah atau aneh," tambahnya.

KH Suhaimi yang disebutnya adalah tokoh Islam dari Mathla'ul Anwar di Menes, Banten, yang menyebarkan Islam di Batujaya, Karawang. Ia bersahabat baik, karena sama-sama tokoh Masyumi, dengan KH Noer Ali dari Ujung Harapan, Bekasi. Antara Batujaya dan Ujung Harapan dipisahkan oleh sungai Citarum. (KH Noer Ali ini tokoh NU, namun ia tetap di Masyumi ketika NU keluar tahun 1952.)

Karena kampung kami dianggap kampung Masyumi, pemerintah Orde Baru menempatkan tentara aktif menjadi kepala desa di sini selama puluhan tahun. Ini semacam strategi DOM di Aceh dalam skala yang kecil. Akibatnya, Golkar selalu menang di desa kami, mengalahkan PPP. Hingga Pemilu 2009 Partai Golkar tetap memperoleh suara teratas. Dalam suasana kultural yang direpresi Orde Baru itu, orang-orang tua kami, wajar saja, lupa pada sejarah masa lalunya.

# # #

Meski demikian, ide pembaruan Islam tetap hidup dalam lembaga pendidikan Mathla'ul Anwar (MA) di desa kami dan di desa Teluk Ambulu--desa lain yang juga jadi basis dakwah KH Suhaimi. Saat SLTA di kampung, aku sudah membaca Capita Selecta I karya Mohammad Natsir, buku salah seorang guru. Tapi, pengajaran di sekolah MA mengikuti kurikulum Departemen Agama. Beruntung, kami mempunyai guru-guru yang unik. Apabila ada pertanyaan murid yang tak diketahui jawabannya, guru kami akan berkata bahwa ia belum mendalami masalah tersebut.

"Saya tak tahu jawabannya. Akan saya cari dulu di kitab-kitab atau tanya pada orang yang lebih alim. Bila sudah ketemu jawabannya, nanti saya beritahu," ucap seorang guru senior. Sebelum menjadi seorang Muslim modernis, ia ini seorang tradisionalis, yang belajar di pesantren, dan menguasai doa-doa untuk kebal, misalnya.

Seorang guru yunior punya cara lain dalam menyikapi pertanyaan yang belum ia tahu jawabnya. "Saya lupa jawabannya. Dulu saya tak pernah tahu. Saya baca-baca buku dulu ya, nanti saya kabari," seloroh guru lulusan IAIN Bandung dan mantan aktivis HMI ini. Ia pulalah yang mengajak aku dan dua teman lain memiliki nomor baku anggota Muhammadiyah pada tahun 1991, tahun akhir SLTA.

Kami memang dibiasakan untuk beragama dengan dalil nash yang kuat, bukan taklid pada tradisi Islam yang ada dalam masyarakat. Ternyata tak mudah membiasakan diri kritis. Kalau anda baca definisi shalat, misalnya, yaitu dimulai dari takbir diakhiri dengan salam, tetapi dalam praktik anda diajarkan sejak kecil mengusap muka dengan kedua telapak tangan selesai salam, seperti juga saat selesai doa. Aku bertanya pada diriku sendiri, adakah dalil usap muka setelah salam sholat atau doa?

Dari beberapa buku tentang shalat yang kubaca, tak ada nash yang kuperlukan. Karena itu, aku tak lagi usap muka dengan kedua telapak tangan setelah doa dan setelah shalat. Awalnya terasa canggung, ada sesuatu yang kurang. Kadang lupa, tetap usap muka, ah mungkin karena shalatku saja yang tidak khusu', sehingga gerakan mengalir dengan sendirinya. Setelah sekian lama, barulah terbiasa dan nyaman secara psikologis.

Sebentar, jangan bayangkan aku orang yang keras. Calon kader-kader HMI dari Komisariat El-Himma (LIPIA) yang mengikuti materiku, "Islam dan Pluralitas Bangsa", umumnya memprotesku, sebagiannya memandangku liberal. Aku senang saja menanggapi protes dan debat mereka, memang ini yang ditumbuhkan dalam pengkaderan HMI.

Keragaman memang fenomena Islam hari ini, antara lain karena warisan tradisi fiqh klasik. Ketika ibuku hendak dikuburkan, pamanku (kakak dari ibuku) berkata, "Ayo adzan!" Melihatku diam saja, ia pun langsung adzan. Aku membiarkannya adzan hingga selesai. Jika kularang, mungkin keributan saat penguburan mayat bundaku yang malah terjadi. Mungkin pula kan muncul perasaan kurang pada diri pamanku, yang membuatnya merasa bersalah. Demikian juga saat pamanku yang lain, yang ini adik ibuku, berkata akan menggelar sedekahan selama tujuh malam. Aku tak bilang jangan, hanya kataku: "Apa tidak bisa tiga hari saja. Kasihan, kecapekan saudara-saudara kerja masak dan begadang." Ia bersikeras, dan aku membiarkannya. Hanya setelah malam ketiga, aku kembali ke Jakarta.

# # #

Namun, aku manusia yang tak sempurna. Tidak semua perintah (wajib, sunnah) bisa aku laksanakan. Demikian juga halnya menjauhi larangan (haram, makruh). Ambil contoh, larangan memakai celana melebihi mata kaki (isbal). Begitu banyak hadits shahih dari Imam Bukhari, Muslim dan perawi lain yang menyatakan larangan tersebut, baik disertai kesombongan saat mengenakannya maupun tidak, baik di saat shalat atau di luar shalat. Sejauh ini, aku hanya bisa menggulung celana, atau mengangkat kain sarung, hingga di atas mata kaki saat shalat. Di luar itu celana panjangku semuanya isbal.

Anda yang tetap isbal mungkin 'kan menghibur diri dengan menyatakan: toh dalam fiqh ada paham yang bilang larangan itu bukan haram, bahkan ada paham yang membolehkan isbal, selain pendapat yang menyatakan haram isbal atau wajib memakai celana/kain sarung di atas mata kaki bagi laki-laki. Tetapi aku tak suka menghibur diri dengan perbedaan fiqh klasik ini--yang belum banyak tersentuh kritik hadits. Aku memandangnya sebagai salah satu kelemahanku, karena dasar perintah adalah untuk dipatuhi dan larangan untuk dijauhi--dengan segera.

"Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat secara nyata." [Q.S. al-Ahzab 33:36]

Mengingat ayat di atas, aku senang pada mereka yang bisa langsung patuh. Mungkin kepatuhan itu karena kesederhanaan pikiran mereka, kata sebagian orang yang merasa terdidik, sebagaimana kelompok elite zaman nabi-nabi dahulu mengejek pengikut nabi sebagai orang rendahan. Sedang aku lebih suka menyebutnya sebagai ekspresi keimanan yang tulus, iman yang menguat. Seperti perempuan-perempuan Sahabat--radhiyallaahu 'anhunna--yang langsung menyobek/memotong kainnya untuk menutup kepalanya (plus leher dan dada), begitu mendengar ayat perintah jilbab yang baru turun kepada Nabi Muhammad [Q.S. al-Nuur 24:31].

Maaf, disebabkan tak sempurna itulah, aku selalu berusaha mengikuti pendapat (i'tiqadiyah atau fiqhiyah) dengan dalil (nash) yang kuat. Rasanya sayang, kalau amal yang sedikit ini digerogoti syirik atau bid'ah. Ya... di tengah keterbatasan waktu, pengetahuan, dan perhatian.[]

Wednesday, August 19, 2009

Berapa Lama Bisa Menunggu?

.
Ini bukan soal lama waktu yang bisa bikin jemu. Tapi soal pembuktian kata-kata, ujar Rendra. Perjuangan untuk menunjukkan sebuah erti, sebuah harga.

oleh: Saripudin HA

SIANG itu, panas Jakarta masuk ke kamarku yang kecil di lantai dasar sebuah rumah di sekitaran Pancoran, Tebet. Badan berkeringat ketika aku terbangun dari tidur siang. Dan lapar segera menunjukkan eksistensinya padaku. Ya..., aku belum makan siang.

Setelah dari kamar mandi dan berpakaian, aku keluar rumah. Tujuanku: satu dari empat rumah makan langgananku di dekat rumah. Kali ini yang dekat Pasar Tebet Barat. Cukup berjalan kaki saja, karena tak terlalu jauh. Sejak semalam Trend XTR terparkir di pelataran depan rumah.

Lewat pukul 14.00 WIB itu warung makan sudah tak terlalu ramai. Aku mengambil menu biasa. Aku memang tak kuasa menolak godaan kentang (goreng-pedas) dan pare (pahit). Kadang "ditemani" ayam, ikan bawal, emas, kembung, cumi, kulit melinjo+teri medan. Ditambah sayur asem, atau jamur. Saat menulis ini, aku lupa siang itu makan apa saja....

Begitu lapar terusir dari perutku (atau dari syaraf di kepalaku), panas kembali terasa begitu aku keluar rumah makan. Kulihat jam di N91-ku, masih lama waktu shalat Ashar tiba, masih lebih 45 menit lagi. Tapi kuputuskan untuk menbunuh waktu di masjid saja, yg terletak 100-an meter dari rumah. Siang ini hanya rumah Tuhan ini saja yang tetap terasa adem dan sejuk, meski aku hanya berada di berandanya. Seperti masjid-masjid di Jakarta pada umumnya, di luar jam shalat, masjid ini pun dikunci. Hanya pintu gerbang bisa dimasuki, dan aku bisa duduk dan rebahan di beranda.

Di siang yang malas itu aku memilih rebahan di atas karpet hijau. Menikmati kesejukan yang tak kudapatkan di kamarku siang itu.... Tetapi mata tak bisa tertidur.

Saat badan berbaring ke sisi kanan, sesuai sunnah, mataku menangkap ada seekor laba-laba di tembok, di bawah penampang informasi masjid. Sekitar 1,5 cm dari laba-laba itu ada serangga kecil, yang bisa terbang. Tak ada yang menarik dari tampilan ini. Akupun tak acuh...

Namun, setelah beberapa lama, ketika pandangan mataku beralih ke objek lain, terlihat di ujung mataku sang laba-laba menyerang serangga tersebut. Mataku segera beralih ke kedua makhluk ini. Ternyata, serangan gagal. Serangga bisa terbang menghindar.

Sayang, serangga terbang tidak terlalu jauh. Sehingga sang laba-laba segera mendekatinya kembali, dengan tetap menjaga jarak serangan sekitar 1,5 cm. Akupun tergoda untuk memperhatikan drama kehidupan dua makhluk kecil ini....

Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit telah berlalu. Tak ada gerakan apapun dari kedua binatang itu. Ternyata, aku tak cukup sabar untuk terus memandanginya. Aku tak bisa menunggu lebih lama. Matakupun beralih pandang. Kemudian, setelah beberapa menit, aku kembali melihat ke arah laba-laba dan serangga. Keduanya masih dalam posisi semula. Tak ada yang mendekat atau menjauh....

Mungkin sekitar 20 menit dari serangan pertama--yang kulihat tadi, serangan kedua baru dilancarkan sang laba-laba. Serangan kedua ini tertangkap jelas oleh mataku, saat sedang memperhatikannya. Bravo! Serangga itu tertangkap! Dan dalam beberapa detik berikutnya mati, masuk dalam "perut" sang laba-laba. Tuhan telah memberinya makan siang ini, sebagaimana telah memberiku makan tadi. Laba-laba itu membunuh serangga, aku juga "membunuh" entah ikan atau ayam, serta tumbuhan....

"Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah menanggung rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [QS Huud:6]

"...Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." [QS Al Hajj:40]

***

Tiba-tiba aku teringat rizkiku, bukan pada perang. Aku berkali-kali mencari pekerjaan (dengan kirim surat lamaran ke mana-mana), tetapi tak dapat. Umumnya pekerjaan (baca: rizki) itu yang datang padaku. Misalnya, bekerja sebagai Sekretaris Prof. Deliar Noer terjadi begitu saja. Saat itu aku tak hadir dalam kelas diskusi Sabtu di rumah Sang Profesor. Teman-temanlah yang mengusulkan namaku untuk gantikan Endang Sidik Permana, yang mau berhenti karena kesibukan menjadi dosen salah satu universitas di Bogor. Sabtu berikutnya aku datang, dan setelah itu aku mulai membantu Profesor yang dikenal tegas dan keras tersebut (Maret 1996-Januari 2000).

Menjadi penulis dan editor buku juga lebih merupakan rizki yang datang. Rasanya hampir semua proposal yang diajukan malah ditolak calon klien. Hanya pada awal karirku di bidang ini saja proposal kumpulan tulisan NEGARA SEKULAR yang kuajukan ke DDII n proposal SYARIAT ISLAM YES SYARIAT ISLAM NO ke Paramadina, disetujui. Selebihnya, buku-buku yang kutulis atau kuedit karena diminta oleh klien atau atas ajakan teman padaku. Ini semua antara lain berkat hubungan baik, silaturrahmi. Meski tidak semua tawaran yang datang bisa kuterima. Bahkan permintaan penulisan buku profil seorang pengusaha pernah kutolak, ketika tanganku tak juga bisa menuliskan kata-kata tentang dirinya--yang terasa mengganjal di hatiku.

Lalu membantu Mar'ie Muhammad di Tim Pemantau JPS, juga diajak teman. Ternyata, Sekretaris TP-JPS ini adalah Phenny Chalid, murid Prof. Deliar Noer. Doktor Filsafat dari Universitas Jerman ini, sebagai Dosen Universitas Nasional, pernah bertamu ke rumah Prof. Deliar. Demikian juga kerjaku sebagai staf ahli Wakil Ketua DPR dan MPR A.M. Fatwa, serta Sekretaris Eksekutif the Fatwa Center, semuanya tanpa kuminta. Bahkan rizki bisa beribadah haji Desember 2007, juga datang saat aku "lupa", setelah tiga tahun sebelumnya aku sangat menginginkannya.

Tentu, tak kubiarkan fakta "rizki yang datang" itu menjadi mitos dalam diriku. Dari waktu ke waktu aku tetap mencari rizki, karena ini tugas kemanusiaanku. Menunggu rizki datang, itu harus ditempatkan secara teologis Islam dalam kerangka konsep "rizki dari jalan yang tak terduga"--meski aku tak bisa bilang bahwa diri ini orang yang memenuhi kualifikasi yang dituntut, misalnya dalam QS At-Thalaq ayat 2-3.

Dalam hal jodoh, juga demikian. Secara bergurau aku biasa kutip ucapan Rabindranath Tagore dalam Tukang Kebun: "Aku mendapat apa yang tak kucari, aku mencari apa yang tak kudapat." Ini tentu tak membuatku lupa untuk terus mencari. Atau untuk menunggu, setelah menemukan, seseorang yang kurasa punya arti penting.

Teringat pada drama laba-laba di atas, muncul tanya: berapa lama Anda bisa menunggu? Atau begitu tertolak, segera beralih ke obyek baru? Dalam hal ini, aku bisa bilang, pernah menunggu 5 hingga 10 tahun untuk menemukan erti seseorang dalam hidupku. Semoga tidak menjadi waktu yang percuma dan sia-sia.

Dan menunggu, juga mencari, tetap menjadi takdirku.[]

Tuesday, June 2, 2009

SBY, JIL, dan PKS

Oleh: Saripudin H.A.

Pemilihan Presiden 2009 diwarnai banyak fenomena menarik, lucu, dan kontradiktif. Tiga hari setelah deklarasi di Sabuga, Bandung pada 15 Mei 2009
, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono mengubah tag line-nya dari “SBY Berboedi” menjadi SBY-Boediono. Perubahan ini dilakukan Tim Sukses setelah mendapat informasi bahwa di Sumatera Selatan kata “Budi” berarti bohong. Disesalkan tentunya karena deklarasi yang menghabiskan dana Rp 10 milyar itu dikonsep secara amatiran. Aku sendiri sejak awal menyindir tag line tersebut di status facebook-ku dengan “SBY-Booo”.

P
asangan SBY-Booo juga menarik karena menyatukan dua orang yang bergerak lambat. Kesamaan ini bisa berefek negatif pada sinergi kepemimpinan. Ketika Umar bin Khatthab, sahabat Nabi Muhammad SAW, naik ke kursi khalifah, hal pertama yang dilakukannya adalah memberhentikan sahabat Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang. Menurut penulis biografi terkemuka asal Mesir, Abbas M. Aqqad, kebijakan Umar tersebut didasari perspektif kepemimpinan, bahwa tidaklah baik menyatukan dua orang yang berkarakter keras dalam pucuk pimpinan negara. Jadi, simpul Aqqad, kesamaan karakter pucuk pimpinan negara merupakan bahaya laten bagi keselamatan dan kemajuan bangsa.

F
enomena menarik dan lucu lainnya dalam Pilpres 2009 adalah bersatunya dua komunitas bermusuhan dalam satu selimut SBY. Ataukah SBY punya banyak selimut untuk melakukan poligami koalisi?

D
ua komunitas bermusuhan tersebut adalah Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Secara resmi, tentu saja yang berkoalisi dengan SBY hanya PKS. Sedangkan JIL sebagai kelompok kepentingan (interest group) bersikap manja, menggelayut mesra pada SBY.

Sejoli Ical-Andi
Setidaknya ada dua “pengawal” yang menjaga keintiman JIL-SBY. Pertama, “sejoli” Abu Rizal Bakrie-Andi Mallarangeng. Sampai awal tahun lalu, kedua orang dekat SBY itu tampak berjauhan. Abu Rizal Bakrie (Ical) masih terkesan lebih dekat dengan Jusuf Kalla ketimbang SBY. Namun, memasuki masa kampanye di tahun 2008, kedekatan keduanya mulai terbangun. Jangan harap pembangunan hubungan itu terjadi secara kelembagaan, tetapi lebih bersifat personal, sebagaimana umum ciri perilaku elite politik Indonesia—meminjam analisis Prof. Deliar Noer.

Sebagai pengusaha bermasalah, Ical bersikap pragmatis. Ia tentu saja memerlukan backing politik dan itu dilihatnya ada pada figur SBY, yang menurut survei bakal muncul sebagai pemenang Pilpres 2009. Di sini
Rizal Mallarangeng, adik Andi dan Direktur Eksekutif Freedom Institute yang didanai Ical, berperan penting sebagai jembatan kongsi politik baru tersebut. Mallarangeng Bersaudara (ditambah si bungsu Zulkarnaen Mallarangeng) adalah pendiri Fox Indonesia, yang menjadi konsultan PR Tim Sukses SBY-Boediono.

Di
Freedom Institute, Rizal Mallarangeng dibantu oleh barisan tokoh JIL, seperti ustadz Luthfi Assyaukanie (deputi direktur), Saiful Mujani (direktur riset), ustadz Hamid Basyaib (direktur program), Ahmad Sahal (Associates), dan ustadz Ulil Abshar Abdalla (Associates). Associates Freedom lainnya adalah Andi Mallarangeng, M. Chatib Basri, Mohamad Iksan, dan Nirwan Dewanto. Dari fungsionaris Freedom itu, hanya ustadz JIL Hamid Basyaib yang maju sebagai calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan. Meski begitu, Hamid tidak melakukan kritik signifikan pada pencapresan SBY.

Di Fox
Indonesia, Zulkarnaen Mallarangeng (Coel) duduk sebagai direktur eksekutif. Selain Andi Mallarangeng, R. William Liddle dan Takeshi Kohno tercatat sebagai konsultan politik. Liddle adalah guru besar dari sejumlah tokoh JIL dan direktur lembaga survei/riset, seperti Saiful Mujani (LSI Lembaga), Denny JA (LSI Lingkaran), dan Rizal Mallarangeng (Freedom Institute). Anda tentu masih ingat, bahwa Fox Indonesia “merusak” kontraknya dengan Sutrisno Bachir melalui aksi sentimental Rizal Mallarangeng memajukan diri sebagai capres 2009..

Selain melalui Freedom Instutute, Fox Indonesia dan LSI Lembaga, Andi Mallarangeng juga memasok data untuk SBY melalui
Indonesian Research and Development Institute (IRDI), yang ia dirikan bersama Notrida G.B. Mandica. Meski di lembaga yang akhir ini tak semuanya digerakkan oleh penganut teguh (true believer) Islam liberal.

Jika Ical berkepentingan mencari backing politik, Andi Mallarangeng tentu berkepentingan agar bisnis public relation Fox Indonesia berjalan. Lalu, apakah kepentingan tokoh-tokoh JIL mendukung all out SBY?

Liberalisme Boediono

Jawabannya adalah faktor ideologis pada “pengawal” kedua, yaitu Boediono. Tokoh pertama yang mendukung pencalonan Boediono sebagai (ca)wapres SBY adalah Goenawan Mohamad. Penerima Anugerh Bakrie Award dari Freedom Institute ini adalah jurnalis dan sastrawan sosialis-liberal yang menyediakan “rumah” bagi JIL di Komunitas Utan Kayu. Di sini Boediono didukung karena liberalisme anggota Mafia Barkeley ini.

Ketika memberikan dukungan untuk program BLT dari Presiden SBY melalui iklan besar-besaran di media massa (yang menunjukkan support Ical pada SBY), Freedom Institute mendasari dukungan itu pada liberalisme ekonomi yang menghendaki dikuranginya, jika tidak dihapusnya, subsidi pada bahan bakar. Kampanye ini berbeda dengan alasan kebijakan yang sama di masa Megawati Soekarnoputri yang bersifat lebih taktis anggaran, dan cikal-bakalnya berupa Jaring Pengaman Sosial (JPS) di masa B.J. Habibie.Selain liberalisme, dukungan JIL pada SBY-Boedino juga disebabkan faktor lainnya, yang tak dibuka ke publik. Faktor ini adalah terhentinya support dana luar negeri untuk JIL. “JIL sudah mati, Mas. Sudah tak ada program. Kontraknya sudah habis. Tinggal kasak kusuk dan sisanya saja,” bisik seorang teman yang dekat dengan tokoh-tokoh JIL.


Berharap pada PKS?
PKS adalah partai politik yang didirikan oleh gerakan (harakah) yang biasa disebut “Tarbiyah”. Yaitu, gerakan bawah tanah, yang merupakan “cabang” dari al-Ikhwan al-Muslimun, berpusat di Mesir.

Harakah Tarbiyah masuk ke kampus-kampus di Indonesia pada masa NKK-BKK, antara lain melalui dukungan Soeripto (kini politisi PKS), intel yang menjadi pejabat tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
pada tahun 1980-an. Kehadiran Rohani Islam di sejumlah kampus besar ini menjadi “rumah” bagi mahasiswa yang tak lagi punya saluran politik di internal kampus. Tahun 1980-an dikenal dengan maraknya kelompok-kelompok diskusi mahasiswa, yang salah satunya adalah jaringan halaqah, kelompok diskusi dari gerakan bawah tanah Tarbiyah.

Tokoh penting gerakan Tarbiyah yang muncul ke permukaan di awal adalah Abu Ridha, lalu KH Rahmat Abdullah. Rahmat bahkan dipercaya menjadi Ketua Majelis Syura sejak transformasi Tarbiyah sebagai gerakan menjadi partai politik bernama Partai Keadilan (kini PKS). Ketua Majelis Syura adalah tokoh nomor satu dalam struktur partai politik Islam ini. Sejatinya, KH Rahmat Abdullah yang diberi gelar Syeikh al-Tarbiyah, semacam Godfather Tarbiyah, bukanlah tokoh nomor satu di harakah ini. Godfather Tarbiyah sejati baru muncul setelah KH Rahmat wafat dan menggantikan kedudukannya di kursi Ketua Majelis Syura PKS. Dialah Hilmi Aminuddin, tokoh misterius yang profilnya belum banyak diungkap.

Ustadz
Hilmi Aminuddin lahir dari ayah bernama Danu Muhammad Hasan, tokoh penting NII (DI/TII) dari Cirebon, antara lain pernah menjadi panglima perang. Hilmi sendiri, menurut sebuah posting, pernah menjadi Menteri Luar Negeri NII komando Adah Djaelani. Ia pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada 1980, ditahan selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada 1984. Sejak itu Hilmi menjadi binaan Intel dan berhubungan akrab dengan L.B. Moerdani dan Soeripto. Ialah yang membawa gerakan ini ke Indonesia, selain mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Mesir dan Arab Saudi (yang berhubungan dengan dosen-dosen asal Mesir).

Karena itulah, Wakil Kepala BIN M. As’ad menilai kemunculan Hilmi Aminuddin setelah kematian KH Rahmat Abdullah (2005) terlalu dini. Penilaian As’ad itu penulis dengar saat penulis mendampingi salah seorang pimpinan MPR dalam suatu pertemuan menjelang musyawarah Majelis Tarjih Muhammadiyah (2006). Tampaknya kekhawatiran As'ad bahwa Hilmi akan menjadi sasaran tembak bagi orang atau kelompok yang berniat menjatuhkan PKS, tidak terbukti sejauh ini, antara lain berkat strategi komunikasi PKS yang sukses “menyembunyikan” supremasi Ketua Majelis Syura PKS dari perhatian pers.

Dalam suatu brosur yang diterbitkan oleh PKS DPW DKI Jakarta di Pemilu Legislatif 2009 kemarin, disebutkan bahwa PK (berdiri pada 9 Agustus 1998) adalah partai Islam pertama yang berasas Islam. Klaim ini ahistoris, jika tidak menyebutnya dusta.

PK, juga PBB, adalah partai Islam yang didirikan dengan asas Pancasila. Alasannya normatif, hukum positif memerintahkan itu. Partai Islam yang memakai Islam sebagai asas sejak awal berdiri di awal reformasi adalah Partai Ummat Islam (PUI, berdiri pada 26 Juni 1998, dipimpin Prof. Deliar Noer). Baru, setelah ada kesepakatan DPR-Pemerintah mengenai bolehnya partai politik era reformasi berasas agama (yang diikuti dengan lahirnya UU Partai Politik 1998), PK dan PBB mengganti asasnya dengan Islam.

Ideologi al-Ikhwan al-Muslimun yang diadopsi PKS jelas bertentangan dengan ideologi liberalisme JIL. Lalu apakah yang diharapkan dari dukungan PKS pada SBY? Menurut
Anis Matta, koalisi PKS dengan Partai Demokrat dan SBY dimaksudkan untuk semata-mata menciptakan konstalasi politik yang memungkinkan PKS tumbuh. Hal ini dicapai antara lain dengan menempatkan tokoh-tokoh partai pada jabatan publik.

Selama 2004-2009 PKS mendapat kursi Menteri Pertanian, Menteri Perumahan Rakyat, dan Menteri Pemuda dan Olahraga dalam kabinet SBY. Ini berbanding lurus dengan 45 kursi legislatif PKS di Senayan. Padahal sebelumnya, PKS hanya menempati pos Menteri Kehutanan. Kini, dengan 57 kursi DPR, harapan penambahan kursi atau signifikansi kursi tentu diminta pimpinan PKS.

Dalam rangka koalisi PKS dengan Partai Demokrat untuk mengusung pasangan SBY-Boediono, beredar isu PKS menginginkan kursi Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama, dua kursi yang biasanya diberikan kepada tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU. Isu ini diramaikan oleh terbitnya buku ILUSI NEGARA ISLAM, yang menyerang PKS. Buku ini diantar ke publik oleh tokoh NU (KH A. Mustofa Bisri) dan Muhammadiyah (yang liberal, seperti Prof. A. Syafii Maarif).

Rasanya, jika pasangan SBY-Boediono menang nanti, sulit bagi SBY memberi jatah kursi Menteri Agama kepada PKS, disebabkan antara lain jaringan anak muda NU yang kuat di dalam JIL. Namun, mungkin mengalihkan kursi Menteri Pendidikan Nasional kepada PKS. Hal ini disebabkan ketidakjelasan sikap tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam memberikan dukungan kepada SBY-Boediono.

Di luar ideologi, dan jatah menterinya nanti, yang jelas politisi-politisi PKS di lembaga perwakilan berhasil membangun citra bersih. Ketika suatu kasus korupsi terungkap, misalnya, politisi-politisi PKS segera memulangkan uang korupsi yang diterima. Meski ini, secara normatif, tidak menghilangkan pidana korupsi yang telah dilakukan.

Dalam masalah program pro-rakyat, umumnya politisi-politisi PKS di Senayan sering bersikap kritis hangat-hangat tahi ayam. Mereka kritis pada rencana kebijakan pemerintah, seperti soal Blok Cepu dan pengurangan subsidi BBM. Namun, setelah pucuk pimpinan mereka bertemu, misalnya dengan Presiden SBY pada kasus Blok Cepu, sikap politik PKS pun berubah. “
Menurut Aria Bima, setiap PKS bermanuver, maka PKS ditekan dan dikaitkan dengan masalah terorisme,” tulis investorindonesia.com, Wednesday, 29 March 2006. “(T)ekanan terhadap fraksiitu berasal dari pemerintah maupun Amerika Serikat (AS).

Tentu, tak semua politisi PKS mau ditekan. Misalnya, Marwan Batubara tetap teguh memperjuangkan kemandirian sumber daya alam nasional. Sayangnya, tokoh seperti ini tergusur dari partai. Tahun ini ia tak maju lagi jadi calon anggota DPD. Isu bahwa ia akan maju sebagai calon anggota DPR, juga tidak terbukti.

Jika pola tekan terorisme terhadap PKS terus dipertahankan, rasanya harapan bahwa partai ini akan bersikap kritis terhadap kebijakan liberal pro-pasar dan Barat dari SBY-Boediono nantinya akan tinggal harapan. Apakah ke depan PKS akan lebih berani? Pertanyaan ini perlu diajukan, mengingat 2014 adalah tahun Grand Design Indonesia ala PKS, sebagaimana pernah dinyatakan oleh sang Presiden Tifatul Sembiring.[]