Citarum Idul Adha 1429 H:Penyeberangan Tradisional Karawang-Bekasi
Sehari sebelum Lebaran Qurban, Idul Adha 1429 H, kemarin aku pulang kampung. Untuk sampai di kampungku, Desa Segaran, Batujaya, Karawang, aku biasa ambil rute bus Cikarang-Cabang Bungin. Aku turun di penyebrangan Asy'ari, terus naik perahu menyeberangi Sungai Citarum, sampailah ke kampungku.

Tiba menjelang Maghrib di penyeberangan Asy'ari, hingga adzan Maghrib terdengar, perahu yang ditunggu belum datang. Setelah aku buka puasa dengan segelas air dalam kemasan, perahu yang menarik penumpang tiba. Air sungai Citarum sedang pasang, dengan arus yang deras. Sempat terlintas cemas, jika perahu terbawa arus. Tetapi, alhamdulillah, beberapa menit kemudian aku sudah berada di teritorial Karawang. Naik ojek, tibalah aku di rumah nenek. Rumahku sendiri sudah beberapa tahun ini kosong, satu dua tahun setelah Bundaku wafat.
Sebentar di kampung, pada sore hari Idul Adha aku balik Jakarta. Citarum masih pasang, malah lebih tinggi dari kemarin. Aku sempatkan memotret beberapa scene, dengan Nokia N91 dan Samsung SGH-E200.

Perahu bertali itu masih jadi satu-satunya alat penyeberangan penduduk dari Bekasi ke Karawang, atau sebaliknya. Sebenarnya, ada proyek pembangunan jembatan Batujaya-Cabang Bungin, tapi terbengkalai sudah beberapa tahun. Berhenti di pinggir sungai. Tak jelas kelanjutannya hingga kini.
"Harus dicor ulang. Ada yang longsong," kata seorang mantan guruku sewaktu aku bertanya padanya mengenai keadaan proyek jembatan tersebut. Aku mengambil foto-foto tersebut dari warungnya di pinggir
Citarum. Ia sudah 27 tahun jadi guru, kini pun masih. Aku salah satu muridnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathlau'ul Anwar--meski tak kutamatkan sekolah ini, karena SD-ku sudah tamat lebih dulu.


0 komentar:
Post a Comment