.
Tahun 2008 agak spesial. Seperti tahun 2000, aku kembali jadi pengangguran di akhir tahun ini. Tahun 2000 aku berhenti bekerja pada Prof. Deliar Noer, setelah menjadi asisten atau sekretaris pribadinya dari tahun 1996. Aku berhenti dalam keadaan baik-baik saja. Beda dengan akhir 2008, ketika aku berhenti dari hubungan kerja dengan A.M. Fatwa dengan kecewa.
Duka lain di akhir tahun ini adalah "ibu"-ku sakit. "Ibu" adalah nenekku dari garis "ema". Ia satu-satunya nenekku yang masih tersisa. Malam tanggal 1 Muharram, nafasnya sesak. Cemas meliputi, walau aku melewati malam itu dengan mengedit buku yang sedang kutulis. Bibiku yang duduk di sampingnya menunggui. Pagi, mantri memeriksanya. Aku mendengar suaranya sambil lamat-lamat karena kantuk yang tak tertahankan. Pamanku yang dari Jakarta datang siang hari, membawa obat (sebenarnya ini suplemen) yang diperlukan. "Ibu" merasa baikan setelah minum suplemen tersebut.
Pulang ke Jakarta Senin malam, tanggal 29 Desember. Hingga menulis posting ini aku di kosan saja menyelesaikan editing buku. Awalnya malas sempat mengalahkanku. Sebelum maghrib sore ini editing selesai, ini tahap kedua.
Setelah shalat Isya sore ini, iseng-iseng kukirim SMS ke sejumlah kenalan. Ini bunyinya:
"Ahad pagi 31 Desember 1972 seorang wanita sederhana melahirkan putra pertama (dan satu-satunya). Si ayah, yang baru pulang dari (kunjungan ke) sebuah pesantren di Cirebon, menamai anaknya dengan nama kiai pesantren tersebut: Syarifuddin dan tambahan Hidayatullah. Anak laki-laki itu hidup sendiri kini. Tanpa ibu, tanpa ayah. Juga tanpa cinta pasangan jiwa. Met malam tahun baru!"
Tak berapa lama muncul reply dari beberapa teman. "Dramatis bener, bos," kata SMS teman di Kalimantan Selatan. Ini membuat tertawa. Sedikit perih.
Dua teman yang lain ajak aku jalan. Kujawab bercanda. "Di rumah saja. Depan TV dan laptop. Ya agar ga mirip tukul, aku pakai kain. Ga celana panjang." Ada juga doanya: "Semoga harimu penuh kebahagiaan, duniamu penuh harapan, dan hatimu penuh kedamaian." Ini ditulis si pemilik http://aann.blogspot.com.
Lalu, sambil duduk depan TV, aku hidupkan laptop, menulis posting ini dan membuka kembali buku catatan coretanku. Ada satu puisi (anggaplah begitu) tentang kelahiranku, yang kutulis 28 Januari 2005.
DUA MIMPI IBU
Ketika aku mengandungmu
anakku. Satu-satumu.
Hari-hari hujan
Lalu kau kulahirkan
dengan cemas senyuman
Berbulan sebelumnya
Ibu melihat purnama
di selatan
Cerah. Menyinar
kupunya arah
Tapi kau lahir. Besar.
Tak sedikitpun hitam
--Belum genap setahun
Ibu diceraikan
Ketika kau remaja. 23 jalan.
Hari-hari hujan, anakku.
Satu-satumu.
Dan kau pulang tengah malam.
Sedang dua malam lalu
mimpi lagi ibu tentangmu,
anakku. Satu-satumu.
Kau kecil. Dalam ayunan
Dan bilang kencing.
Kainmu. Kainmu yang merah itu
bergambar garuda, lagi tua
Tapi kaget ibu. Karena
kuayun kau pada timbangan
(Puisi-puisiku yang lain bisa dibaca di http://cintafarau.blogspot.com).
Wednesday, December 31, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment