Suatu hari, Oktober 2008 lalu aku sedang cari bahan di Perpustakaan Majalah TEMPO, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat. Data yang kucari seputar Peristiwa Tanjung Priok, September 1984-Februari 1985.
Secara tidak sengaja mataku tertuju pada cover majalah TEMPO di bawah ini.
Judul sajian utama edisi itu begitu panjang, berbeda dari judul cover-cover TEMPO lainnya: "Arie namanya. Ia mati dihukum ayahnya. Mungkin anak kita tidak. Tapi benarkah kita tidak kejam?"Judul panjang pada cover itu mengingatkanku, pada waktu itu, pada model judul yang digunakan sebuah koran kuning di Jakarta. Adalah Sirikit Syah, pengamat media, yang menyadarkanku akan keunikan judul koran kuning itu. Di tahun 2003, aku mengundang Sirikit ke Jakarta menjadi pembedah bukuku. Begitu bertemu di Stasiun Gambir, Sirikit meminta panitia (seorang teman dan aku yang menjemputnya) untuk membawakan koran kuning tersebut.
"Koran [....] itu yang berisi gambar porno, judul beritanya panjang-pajang," ujar Sirikit. "Saya ingin lihat seperti apa korannya," jelasnya. Teman Panitia menjanjikan esok akan membawanya ke tempat diskusi/bedah buku.
Jadi, terlepas dari sifat kuning koran dimaksud, judul berita yang panjang khas koran itu ternyata sudah diberi contoh oleh majalah TEMPO. Menurut Agus Basri, judul edisi itu dirancang oleh Surasono, Redaktur Kriminalitas TEMPO.
Kisah penyiksaan Arie pada tahun 1985 diangkat ke layar lebar, dengan judul "Arie Hanggara". Film yang disutradarai Frank Rorimpandey, menampilkan para pemain seperti: Deddy Mizwar, Joice Erna, Yan Cherry Budianto, dan Cok Simbara. Skenario ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Film ini diproduksi oleh PT Manggala Perkasa FIlm dan Tobali Indah Film.

Kata ahli, film "Arie Hanggara" itu bagus. Aktor terbaik untuk Piala Citra FFI 1985 disabet Dedy Mizwar yang berperan sebagai Tino Ridwan, ayah Arie. Idris Sardi yang menggarap musik dan Arswendo Atmowiloto yang menulis skenario juga mendapat Citra. Sedang Yan Cherry Budiono, yang berperan sebagai Arie, mendapat Piala Kartini 1986 untuk Pemeran Anak-Anak Terbaik.
Apakah majalah TEMPO dapat kita sebut sebagai pionir judul berita (sajian utama) panjang di Indonesia? Apakah judul panjang seperti itu memang baru pertama kali terjadi? Saya tak tahu. Jika Anda tahu, sudilah memberi tahu.[]

0 komentar:
Post a Comment