Saturday, February 14, 2009

BUKU SEKOLAH TANPA STANDAR

.
Sabtu, 7 Februari 2009 lalu, bersama tante, adik ibuku, aku menjenguk Bu Kamah di UGD RSCM Jakarta. Istri mantan Kepala Sekolah SD-ku (almarhum) ini tampak kurus. Ia sempat satu rumah sakit dengan nenekku di Rengas Dengklok, Karawang.

"Baru Senin hasil scan-nya ada," kata Samba, temanku yang setia menemaninya. Menurut Eel, putri tertua Bu Kamah yang datang setelah beberapa lama kami di sana, ibunya sakit kanker di bawah hati. Mungkin yang dimaksudnya adalah kanker pankreas. Aku jadi teringat bundaku, yang juga meninggal membawa penyakit ini. Allahu yarhamuhaa.... Penyakit unik yang umumnya baru terasa setelah kankernya akut....

Setelah itu aku menemani tante berbelanja buku di Gramedia Jl. Matraman Raya, Jakarta Timur. Aku mengantar guru Madrasah Ibtidaiyah di kampungku di Karawang ini langsung ke lantai khusus buku-buku sekolah, lt.4....

Semula aku tak acuh dengan buku-buku yang dilihatnya. Tapi tiba-tiba saja adalah hal ganjil muncul di mataku dari cover buku-buku sekolah tersebut. Coba lihat foto-foto berikut:


Apakah Anda sudah melihat keganjilan yang juga telah kulihat? Keganjilan itu terletak pada perbedaan penulisan kelas: ada yang dengan huruf Arab (5 = lima), ada dengan romawi (v = kelima). Ada juga buku yang tak menyebut kelas, tapi jilid buku saja, seperti 5B (yang berarti untuk kelas lima semester dua).


"Kerancuan" ini terjadi bahkan pada buku-buku yang diterbitkan oleh satu penerbit, seperti Erlangga, Grasindo, dan TS. Pihak Gramedia sendiri menulis di papan petunjuknya dengan huruf Arab (5).


Bagaimanakah tingkatan kelas yang benar ditulis? Hingga kini saya tak tahu versi EYD-nya. (Malas sih baca buku ajar bahasa Indonesia lagi...). Apakah memang tak ada standar penulisan sehingga terjadi kekacauan seperti itu? Jika Anda tahu, silakan memberi tahu. Saya tunggu.

Setelah mencari sana sini akhirnya bersualah buku-buku yang hendak dibeli, seperti tertulis dalam daftar yang dibawa.
"Bisa minta kwitansi, mbak?" tanya tanteku. Petugas yang ditanya memberi tahu, kwitansi dapat diminta pada Customer Service , di sisi kanan pintu masuk lantai dasar.
"Kan sudah ada 'struk' belanja?" tanyaku.
"Gak bisa. Tetep harus pake kwitansi dalam laporan BOS," jawab tanteku.

Wah, ya bikin repot aza BOS ini, gumamku. BOS yang dimaksud adalah Bantuan Operasional Sekolah. Kami ke Costumer Service. Tante menyerahkan struk belanja, petugas mencatat di komputernya dan segera memprint kwitansi yang diminta.

Kami pun segera meninggalkan Gramedia. Tante kemudian naik Patas AC 122 menuju Cikarang untuk pulang kampung. Sedang aku silaturrahmi ke kosan seorang teman di dekat rumah mantan Wapres Hamzah Haz di Jl. Tegalan, Jakarta Timur. Pukul 15.30 sore Bibi yang masih di dalam Patas AC 122 mengabarkan bahwa nenek (ibunya) meninggal dunia. Aku pun bergegas pulang kampung untuk melihat dan mencium kening nenek yang terakhir kali. Allaahummaghfir lahaa....[]

3 komentar:

  1. salam kenal
    numpang lewat nih ikut baca...

    salam dari Karawang ya Kang

    ReplyDelete
  2. Sama2. Aku sudah pernah bertamu sebelumnya ke www.karawang.info. Semoga terus berkembang.

    ReplyDelete
  3. bu kamah wafat tgl 6 maret 2009 lewat pkl 11 malam.

    ReplyDelete