Tuesday, February 10, 2009

DUA KABAR DUKA

I
Pulang kampung kali ini, Sabtu, 7 Februari 2009 kemarin dilakukan dengan tergesa dan dalam suasana duka. Sore hari tanteku (adik emaku) menelpon, memberitahukan bahwa nenek "ibu" meninggal. Ibu adalah panggilan kami untuk nenekku dari garus ema. Setelah sakit lebih satu bulan, akhir hidupnya datang juga.

Aku tiba di kampungku (Desa Segaran, Kec. Batujaya, Kab. Karawang) mendekati pukul 23.00 WIB. Tentu saja anggota keluarga yang lain sudah berkumpul. Kulihat nenek tersenyum, dengan wajah yang cerah. Kucium keningnya, berdoa sejenak, dengan tak kuasa menahan air mata yang membasahi mataku.

Ahad pagi mayat dimandikan, dishalatkan di Masjid Nurul Haq, yang dulu didirikan oleh KH Suhaimi (teman KH Nur Ali di Bekasi). Aku kembali diminta memberi amanah berbicara sepatah kata mewakili keluarga. Kali ini, walau tetap tersekat, aku bicara agak lebih lancar dari sepatah kataku sebelumnya. Mungkin karena sudah lebih siap akan kehilangan kali ini.

Selasa, 10 Februari, sore aku kembali ke Jakarta.

II
Berbeda dengan duka kematian yang personal, duka lain bersifat massal sedang menggelayuti langit kampungku. Duka ini menimpa para petani. Tikus dalam jumlah yang banyak menyerang tanaman padi mereka yang sedang mulai berbuah... Dalam satu malam, "tikus-tikus giring" (begini mereka memanggilnya) ini berhasil merusak beberapa petak sawah. Wabah ini menyerang beberapa kecamatan di Karawang.

Tikus giring ini, menurut mereka, bukanlah jenis tikus kampung atau lokal. Tikus lokal tidak memakan padi pada siang hari. Tikus lokal hanya makan pada malam hari. Itupun jumlahnya sedikit. Tetapi tikus giring berjumlah sangat banyak, tidak tidur di lobang namun tidur di tengah sawah, dan memakan padi pada malam dan siang hari. Ia memakan mulai dari tengah dan menyisakan sedikit padi di pinggir.

Akibatnya, petani harus menanam bibit kembali. Jika tidak menanam bibit baru, sebagian petani memenggal batang yang ada, menanamnya agar tumbuh batang baru. Cara yang akhir ini tentu berefek pada hasil (nantinya) yang jauh berkurang daripada cara menanam kembali yang memundurkan waktu panen. Ini berarti Kawarang terancam gagal panen musim ini...

Dari mana tikus giring ini? Sebagian petani menduga-duga, tikus-tikus itu keluar dari sarangnya akibatnya banjir yang beberapa minggu lalu terjadi di Karawang. Sebagian petani menganggap tikus-tikus itu kiriman Sang Khalik sebagai "adzab" kepada petani-petani yang tidak mengeluarkan zakat dari hasil panennya.

Masyarakat hingga kini tidak tahu bagaimana cara menghadapi gerombolan "tikus giring" tersebut. Tak ada petunjuk dari dinas pertanian, padahal wabah ini sudah berlangsung mingguan dan menyebar secara acak di beberapa kecamatan di Karawang, dari Pakis Jaya, Batujaya, terus mengarah ke Rengas Dengklok dan seterusnya.[]

0 komentar:

Post a Comment