Dalam tradisi menunaikan ibadah haji di tanah air, keberangkatan ke tanah suci dilepas dengan berbagai ritual, mulai dari walimatus safar, hingga rombongan keluarga, kenalan dan tetangga yang mengantar ke asrama haji atau melepas di bandara.
Aku meniadakan walimatus safar, sebagaimana kuceritakan di Haji (02). Untuk keberangkatan, keluarga (antara lain nenek, tante, dan paman-pamanku) meminta kesempatan untuk mengantar. Bahkan mereka meminta aku tinggal bersama mereka di rumah seorang paman di Luar Batang, Pasang Ikan, Jakarta Utara pada malam sebelum keberangkatan, agar pagi harinya aku berangkat bersama mereka. Aku menolak kedua permintaan ini. “Cukup ketemu di bandara Soekarno-Hatta saja,” kataku.
Beberapa hari sebelum keberangkatanku, nenek dan dua adik ibuku (tanteku) sudah tinggal di Luar Batang dalam rangka melepas keberangkatan pamanku dan isterinya yang juga berhaji musim ini dengan ONH biasa. Mereka, Muslim tradisionalis, menggelar walimatus safar dan keberangkatan diantar oleh seluruh kerabat, dekat dan jauh, kenalan, dan tetangga. Pertama ke “halte” rombongan haji Jakarta dari Al-Ikhwan di Jakarta Islamic Center (JIC), lalu ke Bekasi (pusat kumpul rombongan Al-Ikhwan), untuk selanjutnya ke bandara. Aku hanya menyempatkan diri mengantar hingga JIC. Ini untuk pertama kali aku berkunjung ke JIC (dulu Kramat Tunggak, lokalisasi pelacuran).
Hingga beberapa hari setelah aku, lalu pamanku dan isterinya pulang haji, nenek dan kedua tanteku tinggal di Luar Batang. Dengan segala keterbatasan mereka menyeleggarakan segenap ritual tradisional terkait anggota keluarga yang berhaji.
* * *
Rabu, 12 Desember 2007, setelah menunaikan shalat Shubuh berjama’ah di Masjid al-Muttahidin, Jl. TBD VII, Tebet, aku menyotop taksi dan berangkat sendirian menuju rumah dinas A.M. Fatwa di Jl. Denpasar Raya. Barang bawaan hanya satu koper sedang dan tas pundak. Supir taksiku ternyata pernah jadi tenaga kerja (TKI) di Arab Saudi. “Orang tidak memandang TKI yang sudah melaksanakan ibadah haji selagi kerja di Saudi sebagai haji,” keluhnya. Aku tentu saja megaskan bahwa ibadah haji dilaksanakan TKI tersebut sah. Sedang soal panggilan “haji”, ya terserah apa mau digunakan atau tidak. Supir taksi itu juga menyatakan keheranannya mengapa aku berangkat haji tanpa diantar rombongan.
Masih pagi ketika taksi sampai di Jl. Denpasar Raya 21. Lebih dua jam menunggu persiapan keluarga ini. Lewat pukul 8 pagi, A.M. Fatwa, Dian Islamiati, Rijalulhaq, dan aku berangkat ke kantor Atase Agama di Jl. Prof. Dr. Satrio, tak jauh dari rumah dinas A.M. Fatwa. Menunggu cukup lama di sini, lebih 3 jam, antara lain untuk pembagian paspor, pakaian ihram, dan buku/brosur haji, serta acara pelepasan jamaah oleh Kepala Atase Agama, Syeikh Ibrahim S. Al-Naghaimshi. Sambutan dari pihak calon haji diwakili oleh A.M. Fatwa dan Kombes (Pol) Anton Bahrul Alam. Ada juga ceramah tentang teknis pelaksanaan ibadah haji….
Dalam sambutan berbahasa Arab (yang diterjemahkan), Syeikh Ibrahim menyebut jumlah calon haji yang diberangkatkan Atase Agama pada musim haji akhir 2oo7 itu. Ternyata, selain dari Indonesia (lebih seratus orang), ada pula calon haji dari RRC (China). Aku kaget juga mendengarnya. Keberangkatan calon haji dari RRC via Indonesia ini dilakukan agar hubungan baik perdagangan Arab Saudi dengan RRC yang tengah berkembang pesat tidak terganggu, lantaran sikap (masih) kurang-ramah RRC terhadap Islam. Hal ini juga ditegaskan oleh Kepala Panitia Tamu Raja, saat kami berbincang-bincang malam di tenda haji Tamu Raja di Mina. Ketika di kantor Atase Agama itu, aku tidak melihat rombongan RRC. Baru di Makkah, berjumpa dengan mereka, juga yang dari Nepal. (Catatanku mengenai jumlah rombongan haji Atase Agama Saudi tahun itu, belum kutemukan).
Ada dua jenis Tamu Raja: yang diurus langsung oleh Panitia Tamu Raja (selanjutnya disebut Tamu Raja), dan yang ditangani oleh Rabithah Alam Islamiy (selanjutnya Tamu Rabithah). Calon haji dari Indonesia, yang termasuk dalam rombongan Tamu Raja, terdiri dari staf cleaning service Kedutaan Besar Arab Saudi, pejabat/birokrat/polisi, pimpinan organisasi Islam, wartawan, dosen, hingga da’i di pelosok/pedalaman tanah air. Termasuk dalam kelompok Tamu Raja adalah undangan Putra Mahkota, yaitu beberapa orang yang memenangi lomba hafal al-Qur’an dan Hadits yang diselenggarakan Atase Agama.
Calon haji Tamu Rabithah terdiri dari rektor (UII Yogyakarta, UNM Malang), dosen (UIN Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Makassar, UII, & UNAIR), wartawan (Sabili, Qiblati), pimpinan organisasi Islam (KH Hasyim Muzadi; Prof. Din Syamsuddin tidak datang), dan politisi (A.M. Fatwa). Aku masuk dalam rombongan Tamu Rabithah karena mendampingi Fatwa. Sedang Rektor UI Prof. Dr. Gumilar R. Somantri dan isterinya masuk dalam rombongan Tamu Raja.
Selain dibiayai dari dana pemerintah Saudi, beberapa calon haji juga dibiayai atas infak para muhsinin, donatur partikelir, yang diusahakan secara pribadi oleh Syeikh Ibrahim. Syeikh ini memang disukai oleh organisasi-organisasi Islam di Indonesia, karena ia bekerja melebihi kewajibannya. Karena itu, ia tetap diminta bertahan di Indonesia, setelah rencana pemanggilannya pulang ke Saudi sebelumnya “digagalkan” oleh organisasi-organisasi Islam.
Siang, rombongan diangkut ke bandara udara Soekarno-Hatta dalam sekitar lima bus besar. Di bandara, sudah menunggu nenekku dan anak-menantunya. Kuperkenalkan mereka kepada A.M. Fatwa. Ternyata, pesawat Saudia SV0823 delay. Kami menunggu beberapa jam di bandara, termasuk untuk makan siang dan shalat jamak Zhuhur-Ashar. Beberapa tamu “elite” duduk di ruang VIP Emerald Louge. Mayoritas rombongan makan siang di ruang lain.
Keluar dari ruang VIP menuju ke gate tunggu pesawat, kami (Fatwa, Dian, Rijal, dan aku) berpapasan dengan Luthfi Assyaukani, ustadz Jaringan Islam Liberal (JIL). Fatwa hanya bersalaman dan terus berjalan. Tahu aku merasakan “keanehan” atas sikapnya, Fatwa berkata, “Dia JIL kan?” Sebenarnya, tidak dengan semua aktivis JIL Fatwa bersikap kurang ramah. Ia ramah, misalnya, dengan Hamid Basyaib yang sempat menjadi aktivis PAN dan bergabung dalam kelompok think thank Pancoran (umumnya terdiri dari lulusan UII Yogyakarta) untuk Amien Rais for President (2004).
Langkah kami tertahan, karena Dian bicara agak lama dengan Luthfi. Ternyata kami berempat paling akhir tiba di gerbang gate tunggu pesawat. Lalu di belakang kami bergegas Prof. Gumilar (Rektor UI) dan istri. Ia tidak ikut hadir di kantor Atase Agama dan ruang tunggu VIP Emerald Louge. Dari rumah langsung ke bandara.
Tak kuingat lagi pada pukul berapa Saudia SV0823 meninggalkan bandara Soekarno-Hatta. Aku duduk di kursi 14a, dekat jendela. Di sebelahku duduk Arif Rachman Hakim (Tamu Raja) dan Dr. Muhammad Zaidun (dosen Fakultas Hukum UNAIR, Tamu Rabithah). Pak Zaidun ini, namanya kukenal dari tulisan-tulisannya di jurnal lingkungan hidup, juga dari media lembaga pers Sirikit Syah. Pesawat berhenti satu jam di Malaysia, sudah lewat Maghrib. Beberapa penumpang masuk. Duduk beberapa kursi di depanku sejumlah perempuan muda, berpakaian Muslimah biasa (seperti bukan untuk berhaji), dan terus saja mereka ramai berbicara.
Dalam penerbangan Malaysia-Jeddah aku sempat tertidur sebentar…. Terbangun, lalu kudengar suara pramugari mengumumkan bahwa sekitar 30 menit lagi pesawat akan melintasi batas Miqat. Penumpang yang akan mengenakan pakaian ihram diminta untuk bersiap-siap. Pengumuman diulang kembali di menit lain. Aku ke toilet untuk berganti pakaian ihram. Sebentar saja merasakan tak nyaman tanpa pakaian dalam. Pada detik-detik melewati Miqat, pramugari kembali berbicara. Aku pun mengucapkan niat umrah untuk haji tamattu' (umrah dahulu baru haji) dan menyuarakan talbiyah…. Suasana hati seketika berubah khusuk. Satu tahap penting dalam hidup sudah mulai kukerjakan. Terimalah ibadahku, ya Allah.
Kulihat sekitar, semua penumpang pria berpakaian ihram dan bertalbiyah. Dalam brosur haji Departeman Agama, berpakaian ihram dan niat haji baru dilakukan di bandara udara King Abdul Aziz, Jeddah. Pesawat kami tiba di bandara yang unik ini dini hari 13 Desember 2007.
Jakarta, 6 Mei 2009

0 komentar:
Post a Comment