Angin Jeddah yang sejuk dinihari Kamis, 13 Desember 2007 itu langsung menyapa kami begitu keluar dari pintu pesawat Saudia. Di landasan pesawat Bandara King Abdul Aziz ini kami (A.M. Fatwa, aku, Dian Islamiati, dan Rijalulhaq) berpisah dengan rombongan Tamu Raja dan Tamu Rabithah lainnya. Dua pejabat KJRI Jeddah, Bung Didi Wahyudi dan Sani, membawa kami ke ruang VIP bandara. Fatwa memang memakai paspor coklat, diplomatik.
Di ruang tunggu VIP kembali kami dipisah: Dian ditempatkan di ruang wanita. Sayangnya, bandara yang terkenal ini kamar toilet ruang VIP-nya tak sebagus yang dibayangkan. Banyak kamar toilet tak bisa dipakai karena kotoran belum disiram. Entah kemana petugas cleaning service pada dinihari itu?
Sambil menikmati teh hangat yang tersedia, kami berbincang-bincang dengan Bung Didi tentang penyelenggaraan haji tahun ini, termasuk haji paspor hijau (atau haji illegal). Sedang pak Sani menyelesaikan urusan administrasi. Aku sendiri termasuk kurang memperhatikan isu-isu penyelenggaraan haji ini di tanah air. Menurut Bung Didi, jamaah haji illegal dari Indonesia adalah jamaah yang datang untuk umrah pada bulan Ramadhan atau Sawwal, yang terus tinggal di Saudi, meski izin tinggal sudah habis. Jamaah “haji sandal jepit” ini, demikian istilah yang biasa digunakan di sini, berasal dari sejumlah daerah di tanah air, dengan jumlah terbesar disumbang dari: NTB, Jawa Timur, Banten, dan Kalimantan Selatan. Belakangan, Pak Konjen Gatot Abdullah Mansyur masuk ke ruang VIP dan berbicara dengan kami.
Agak lama juga menunggu proses administrasi kami selesai, juga para Tamu Raja dan Tamu Rabithah di tempat lain. Setelah proses administrasi rombongan umum selesai, kami yang di ruang VIP pun dibawa keluar oleh staf KJRI. Tugas kedua staf KJRI ini selesai ketika kami bertemu dengan rombongan Tamu Raja dan Tamu Rabithah lainnya, di sisi kiri ruang tamu VIP. Dian dan Rijal sudah naik ke bus Tamu Raja. Fatwa dan aku, serta 11 tamu haji lainnya, naik bus Tamu Rabithah, bus tiga-perempat. Paspor kami semua diurus oleh petugas Tamu Rabithah, yaitu Khalid, Abuzzair, dan Abdul Qadar.
Tak lama bus berjalan, sebelum keluar dari kompleks Bandara King Abdul Aziz, bus distop petugas. Pemeriksaan rutin paspor, yang diurus oleh petugas Tamu Rabithah. Sebentar saja. Bus lalu melaju dengan tenangnya di jalan-jalan Jeddah yang lapang. Dari dalam bus kulihat banyak mobil teronggok di pinggir jalan. Ketika pulang haji aku tak memperhatikan mobil-mobil itu….
Adzan Shubuh terdengar ketika bus sedang melaju di jalan. Bus berhenti di sebuah masjid di sisi kanan jalan. Masjid kecil, bukan masjid jami’, atau seperti Mushalla di tanah air kita. Kami, rombongan Tamu Raja, shalat Shubuh di masjid ini. Di sampingnya ada toko, yang buka 24 jam.
Setelah itu bus mengangkut kami ke Mina, ke wisma Rabithah Alam Islamiy. Kami sempat berdiskusi, apa langsung ke Masjid al-Haram atau ikut rute panitia ke Mina. Mengingat barang-barang bawaan kami yang lumayan banyak, kami sepakat untuk ke Mina dahulu.



Tiba di Mina, wisma Rabithah terletak di depan sisi kanan Masjid al-Khaif. Di depan Masjid ini, ada ruang wudhu, tenda-tenda jamaah haji, dan Rumah Sakit Mina. Jadi, R.S. Mina terletak di sebelah kanan depan wisma Rabithah. Di sisi kiri depan RS Mina ini terowongan, tempat kami nantinya berjalan kaki untuk menuju Masjid al-Haram karena tiadanya kendaraan umum yang lewat. Di belakang Masjid al-Khaif terdapat tempat melempar jumrah, yang saat itu sedang dibangun (baru 3 tingkat).
Di wisma ini kami menyelesaikan pendaftaran tamu, memasukkan barang-barang ke kamar, lalu foto untuk kartu haji Tamu Rabithah. Ada masalah kecil: nama Prof. Edi S. Hamid (Rektor UII, Ketua Forum Rektor) tidak tercantum dalam daftar Tamu Rabithah. Setelah komunikasi dengan Syeikh Ibrahim, Direktur Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, masalah administrasi segera dapat diselesaikan. Di sini terasa kosakata bahasa Arabku sudah banyak menghilang setelah 12 tahun tak kugunakan. Untungnya, ada pak Usman Ismail (Universitas Makassar) yang turut membantu.
Rombongan kami, berjumlah 13 orang, tinggal di dua kamar di lantai 3. Di ruang 501 tinggal A.M. Fatwa, Dr. Muhammad Zaidun, Usman Ismail, Suroso Hadi, Tito Yuwono, dan aku, serta esoknya masuk tamu dari Thailand. Sisa rombongan kami tinggal di kamar 502, yang tidak berkunci, yaitu Prof. Edi S. Hamid, Prof. M. Chirzin, Dr. Hasan Asari, Dr. Hamid Nasuhi, Dr. Syamsul Hadi, Muhammad Taufiki, dan Layer Junaidi.Setelah kartu haji Tamu Rabithah kami terima, lewat pkl. 10 pagi waktu setempat, rombongan kami (13 orang) dan beberapa tamu dari negara lain diangkut ke Masjid al-Haram. Panitia Rabithah melarang kami membawa tas punggung atas tas tangan (kecil). Meski demikian, aku tetap membawa tas tanganku, yang bermerk Eager. Di antara rombongan kami, beberapa sudah pernah melaksanakan haji atau umrah. Sedang aku baru pertama kali ini tiba di tanah haram.
Jarak Mina-Masjid al-Haram sekitar 5 km. Bus yang membawa kami berhenti di terowongan bawah tanah Masjid. Naik tangga, kami tiba di pintu 5 Masjid al-Haram (jika tak salah ingat). Kami—yang berpakaian ihram sejak dari pesawat—diliputi keharuan. Mata berkaca-kaca. Memasuki Masjid termulia di dunia ini, kami melepas sandal. Aku menitipkan sandalku dan sandal pak Fatwa pada seorang teman yang membawa plastik tenteng.
Cukup jauh berjalan dari pintu gerbang Masjid hingga lantai dasar Ka’bah. Kami langsung thawaf qudum (thawaf kedatangan), 7 putaran. Kami yang semula berbaris berurutan, akhirnya terpisah juga oleh arus jamaah thawaf yang tarik ulur (menguat dan melemah). Rombongan kami terpisah dalam dua regu. Reguku terdiri antara lain dari Fatwa, dan aku, serta ……. (maaf, yang lain aku lupa). Semula pak Fatwa berdiri di belakangku. Kupikir ini baik, sehingga ia bisa mengikuti aku di belakang. Namun pengalaman menunjukkan sebaliknya: mengikuti justru lebih sulit. Akhirnya, pak Fatwa di depan dan aku serta teman regu kami yang lain di belakang. Para calon haji yang sedang thawaf, jika ia suami-istri, thawaf dengan susunan demikian: istri di depan, suami di belakang. Bahkan beberapa suami tampak “memeluk” istrinya dari belakang. Tentu ini tak membatalkan ibadah thawaf. Saat melihat itu aku merasa, betapa nikmatnya bila bisa melaksanakan ibadah haji (kedua nanti) dengan istriku….
Aku ingin sekali mendekat ke Ka’bah, jikapun tak bisa mencium Hajar Aswad, minimal berdoa di Multajam yang terletak antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Namun, pak Fatwa mengingatkanku agar jangan memaksakan diri maju ke depan di tengah arus thawaf yang kuat. Saat thawaf aku membaca doa-doa yang warid (bersumber dari Nabi Muhammad SAW) dan disunnahkan saja: tentu tak sebanyak doa yang diucap oleh Muslim tradisionalis. Meski begitu pak Fatwa berkata padaku agar tak terlalu banyak berdoa, tetapi lebih memperhatikan jalan yang berdesakan. Saat melewati Maqam (tempat berdiri) Ibrahim, kulihat beberapa orang melakukan perbuatan bid’ah pada Maqam Ibrahim ini, seperti menciumnya. Di Ka’bah atau Masjid al-Haram, benda yang sunnah dicium hanyalah Hajar Aswad.
Setelah thawaf selesai, sesuai sunnah, kami shalat sunnah dua rakaat di arah belakang Maqam Ibrahim. Aku mengucap doa-doa, termasuk doa titip keluarga, kerabat, dan kenalan. Lalu kami meminum air zamzam. Dan terus melakukan sa’i 7 putaran. Ketika tiba di puncak bukit Shafa dan Marwah, rasanya kurang cukup waktu untuk membaca doa yang warid, karena arus bergerak cukup cepat dan sesak. Sesak juga disebabkan banyak orang yang tak mau beranjak dari tempatnya berdiri setelah selesai berdoa secukupnya. Karena itu, hendaknya tidak mengucapkan banyak doa tambahan di samping doa yang warid.
Gunting untuk cukur tahallul yang kubawa dalam tas, ternyata jatuh saat sa’i tadi. Kami meminjam gunting orang lain untuk tahallul (penghalal dari larangan-larangan) umrah ini. Sebenarnya ada tempat cukur di dekat Shafa, di bagian luar. Tapi aku sendiri berpikir untuk tahallalul kecil saja, yaitu gunting sedikit rambut. Sedang tahallul besar dengan mencukup seluruh rambut (botak) akan kulakukan nanti pada tahallul haji tanggal 10 Dzulhijjah.
Rombongan kami kembali ke Wisma Rabithah setelah shalat Zhuhur di al-Haram. Ini shalat pertamaku di depan Ka’bah. Subhaanallaah walhamdulillaah!
Kami tiba di wisma Rabithah lewat pukul 13.30 waktu setempat, masih sempat menikmati hidangan makan siang yang disediakan untuk para tamu. Ruang makannya terletak di lantai dasar wisma.
Jakarta, 26 Mei 2009.
Artikel terkait:
a. Haji (03): Berangkat ke Tanah Haram
b. Haji (02): Persiapan Berangkat
c. Haji (01): Hiburan dari Tuhan
Note: Foto-foto milik Prof. Edi S. Hamid, diambil setelah Mina dipadati jamaah haji (tgl 8-13 Dzulhijjah). Makasih.

0 komentar:
Post a Comment