.
Ini bukan soal lama waktu yang bisa bikin jemu. Tapi soal pembuktian kata-kata, ujar Rendra. Perjuangan untuk menunjukkan sebuah erti, sebuah harga.
oleh: Saripudin HA
SIANG itu, panas Jakarta masuk ke kamarku yang kecil di lantai dasar sebuah rumah di sekitaran Pancoran, Tebet. Badan berkeringat ketika aku terbangun dari tidur siang. Dan lapar segera menunjukkan eksistensinya padaku. Ya..., aku belum makan siang.
Setelah dari kamar mandi dan berpakaian, aku keluar rumah. Tujuanku: satu dari empat rumah makan langgananku di dekat rumah. Kali ini yang dekat Pasar Tebet Barat. Cukup berjalan kaki saja, karena tak terlalu jauh. Sejak semalam Trend XTR terparkir di pelataran depan rumah.
Lewat pukul 14.00 WIB itu warung makan sudah tak terlalu ramai. Aku mengambil menu biasa. Aku memang tak kuasa menolak godaan kentang (goreng-pedas) dan pare (pahit). Kadang "ditemani" ayam, ikan bawal, emas, kembung, cumi, kulit melinjo+teri medan. Ditambah sayur asem, atau jamur. Saat menulis ini, aku lupa siang itu makan apa saja....
Begitu lapar terusir dari perutku (atau dari syaraf di kepalaku), panas kembali terasa begitu aku keluar rumah makan. Kulihat jam di N91-ku, masih lama waktu shalat Ashar tiba, masih lebih 45 menit lagi. Tapi kuputuskan untuk menbunuh waktu di masjid saja, yg terletak 100-an meter dari rumah. Siang ini hanya rumah Tuhan ini saja yang tetap terasa adem dan sejuk, meski aku hanya berada di berandanya. Seperti masjid-masjid di Jakarta pada umumnya, di luar jam shalat, masjid ini pun dikunci. Hanya pintu gerbang bisa dimasuki, dan aku bisa duduk dan rebahan di beranda.
Di siang yang malas itu aku memilih rebahan di atas karpet hijau. Menikmati kesejukan yang tak kudapatkan di kamarku siang itu.... Tetapi mata tak bisa tertidur.
Saat badan berbaring ke sisi kanan, sesuai sunnah, mataku menangkap ada seekor laba-laba di tembok, di bawah penampang informasi masjid. Sekitar 1,5 cm dari laba-laba itu ada serangga kecil, yang bisa terbang. Tak ada yang menarik dari tampilan ini. Akupun tak acuh...
Namun, setelah beberapa lama, ketika pandangan mataku beralih ke objek lain, terlihat di ujung mataku sang laba-laba menyerang serangga tersebut. Mataku segera beralih ke kedua makhluk ini. Ternyata, serangan gagal. Serangga bisa terbang menghindar.
Sayang, serangga terbang tidak terlalu jauh. Sehingga sang laba-laba segera mendekatinya kembali, dengan tetap menjaga jarak serangan sekitar 1,5 cm. Akupun tergoda untuk memperhatikan drama kehidupan dua makhluk kecil ini....
Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit telah berlalu. Tak ada gerakan apapun dari kedua binatang itu. Ternyata, aku tak cukup sabar untuk terus memandanginya. Aku tak bisa menunggu lebih lama. Matakupun beralih pandang. Kemudian, setelah beberapa menit, aku kembali melihat ke arah laba-laba dan serangga. Keduanya masih dalam posisi semula. Tak ada yang mendekat atau menjauh....
Mungkin sekitar 20 menit dari serangan pertama--yang kulihat tadi, serangan kedua baru dilancarkan sang laba-laba. Serangan kedua ini tertangkap jelas oleh mataku, saat sedang memperhatikannya. Bravo! Serangga itu tertangkap! Dan dalam beberapa detik berikutnya mati, masuk dalam "perut" sang laba-laba. Tuhan telah memberinya makan siang ini, sebagaimana telah memberiku makan tadi. Laba-laba itu membunuh serangga, aku juga "membunuh" entah ikan atau ayam, serta tumbuhan....
"Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah menanggung rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [QS Huud:6]
"...Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." [QS Al Hajj:40]
***
Tiba-tiba aku teringat rizkiku, bukan pada perang. Aku berkali-kali mencari pekerjaan (dengan kirim surat lamaran ke mana-mana), tetapi tak dapat. Umumnya pekerjaan (baca: rizki) itu yang datang padaku. Misalnya, bekerja sebagai Sekretaris Prof. Deliar Noer terjadi begitu saja. Saat itu aku tak hadir dalam kelas diskusi Sabtu di rumah Sang Profesor. Teman-temanlah yang mengusulkan namaku untuk gantikan Endang Sidik Permana, yang mau berhenti karena kesibukan menjadi dosen salah satu universitas di Bogor. Sabtu berikutnya aku datang, dan setelah itu aku mulai membantu Profesor yang dikenal tegas dan keras tersebut (Maret 1996-Januari 2000).
Menjadi penulis dan editor buku juga lebih merupakan rizki yang datang. Rasanya hampir semua proposal yang diajukan malah ditolak calon klien. Hanya pada awal karirku di bidang ini saja proposal kumpulan tulisan NEGARA SEKULAR yang kuajukan ke DDII n proposal SYARIAT ISLAM YES SYARIAT ISLAM NO ke Paramadina, disetujui. Selebihnya, buku-buku yang kutulis atau kuedit karena diminta oleh klien atau atas ajakan teman padaku. Ini semua antara lain berkat hubungan baik, silaturrahmi. Meski tidak semua tawaran yang datang bisa kuterima. Bahkan permintaan penulisan buku profil seorang pengusaha pernah kutolak, ketika tanganku tak juga bisa menuliskan kata-kata tentang dirinya--yang terasa mengganjal di hatiku.
Lalu membantu Mar'ie Muhammad di Tim Pemantau JPS, juga diajak teman. Ternyata, Sekretaris TP-JPS ini adalah Phenny Chalid, murid Prof. Deliar Noer. Doktor Filsafat dari Universitas Jerman ini, sebagai Dosen Universitas Nasional, pernah bertamu ke rumah Prof. Deliar. Demikian juga kerjaku sebagai staf ahli Wakil Ketua DPR dan MPR A.M. Fatwa, serta Sekretaris Eksekutif the Fatwa Center, semuanya tanpa kuminta. Bahkan rizki bisa beribadah haji Desember 2007, juga datang saat aku "lupa", setelah tiga tahun sebelumnya aku sangat menginginkannya.
Tentu, tak kubiarkan fakta "rizki yang datang" itu menjadi mitos dalam diriku. Dari waktu ke waktu aku tetap mencari rizki, karena ini tugas kemanusiaanku. Menunggu rizki datang, itu harus ditempatkan secara teologis Islam dalam kerangka konsep "rizki dari jalan yang tak terduga"--meski aku tak bisa bilang bahwa diri ini orang yang memenuhi kualifikasi yang dituntut, misalnya dalam QS At-Thalaq ayat 2-3.
Dalam hal jodoh, juga demikian. Secara bergurau aku biasa kutip ucapan Rabindranath Tagore dalam Tukang Kebun: "Aku mendapat apa yang tak kucari, aku mencari apa yang tak kudapat." Ini tentu tak membuatku lupa untuk terus mencari. Atau untuk menunggu, setelah menemukan, seseorang yang kurasa punya arti penting.
Teringat pada drama laba-laba di atas, muncul tanya: berapa lama Anda bisa menunggu? Atau begitu tertolak, segera beralih ke obyek baru? Dalam hal ini, aku bisa bilang, pernah menunggu 5 hingga 10 tahun untuk menemukan erti seseorang dalam hidupku. Semoga tidak menjadi waktu yang percuma dan sia-sia.
Dan menunggu, juga mencari, tetap menjadi takdirku.[]
Wednesday, August 19, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

bbrp komen teman2 FB di notes akunku ():
ReplyDeleteQusya Hasan
kirain wisata kuliner, ternyata lbh lengkap dr yg kubayangkan. ada wisata hati, pemikiran dan wisata hidup jg. dikemas dg dingin, tanpa keluh kesah. memang kalo kt jalani hidup spt journey,petualangan ato wisata, serumit apapun persoalan hidup biasanya ttp menarik dan colorfull jg (katanya sih).
ttp semangat bro. kata org bijak, org2 spt kt ini ibadahnya ya lewat kesabaran spt ini.
August 21 at 11:55am
Aboeprijadi Santoso
Pernah di kalangan kiri ada istilah tenar: "kesabaran revolusioner". Anggap saja sekitar Anda tengah berlangsung sebuah revolusi - revolusi apa pun. Mungkin "kesabaran rev" itu dpt mendekatkan Anda pd apa pun yg Anda tunggu?!He, he .. bercanda separo serius..
August 22 at 10:18pm
Iman Masfardi
Kadang-kadang, kegelapan begitu berarti dalam memaknai cahaya terang.
Tak jarang pula, cahaya menjadi sia-sia, di tengah terang yang gemerlap.
Bukankah, untuk "melihat" yang jauh dalam rentang waktu dam jarak, kita harus memejamkan mata ?
August 24 at 1:39am
Catur W. Nugroho
Wah... pengalaman hidup yang penuh makna. Semoga menjadi cermin. Nanti kucoba cari si "Dian Sastro" itu ya mas....
August 24 at 10:52am
Saripudin Ha
@iman: komentar senior ini dalem n filosofis banget.
@catur: ha haa haaa... (ala mbah surip)
August 25 at 1:18am
Kurniawan Zein
penantian bukan soal waktu, tapi keputusan. Seberapa lama waktu yang akan dihabiskan hanya untuk sebuah penantian...sementara waktu trus berputar, rambut kian memutih, tulang kian merapuh, revolusi tidak harus berarti kesepian dalam penantian..semuanya harus diakhiri...
August 26 at 10:28am
Muhammad Hafid
Kalau Abangmu ini bukan tipikan orang yang gemar menunggu, take action! mau atau tidak, mau.... ayo, nggak mau ya udah...!
August 26 at 12:57pm
Saripudin Ha
@Zein: itulah kalimat penanti yg sudah selesai....
@Aboe: sdh lama mau nanggapi, tapi ragu tulis apa. Ust Hanafi, guru suluk (tasawwuf dlm konsepsi Ibnu Taimiyah) pernah berujar pd kami, murid2nya: jadilah cermin bg lawan/teman bicaramu. Menunggu memang tak harus diam.
August 26 at 8:28pm
Andreas Harsono
Cerita menarik. Mungkin bisa dibuat lebih panjang, 10,000-15,000 kata. Ia potensial untuk menarik perhatian orang.
August 27 at 6:53am
Kurniawan Zein
Ha..ha..ha..bro pertemuan itu tak seindah yang dibayangkan..memang butuh keberanian untuk menghadapi realitas bahwa kita tidak seharusnya menyendiri..ada warna-warni di sana meski kadang warna itu kabur..hidup bersama ternyata banyak kejutan disana..persoalannya bukan dengan siapa kita harus menghabiskan sepenggalan umur yang tersisa tapi kerelaan menghabiskan waktu yang tersisa dengan siapa..jangan terlalu lama menanti..
August 27 at 9:32am
Saripudin Ha
@Andreas: itu pujian atau dorongan agar nulis lebih baik lagi ya... saya anggap yg kedua aza ya. jadi inget penilaian syu'bah asa, "guru" yg ajarkn nulis gaya tempo. penilaian mas andreas atas tulisan2 saya dulu (yg saya titip melalui edy sudarjat--sarec isai) sama dg penilaiannya.
note di atas tadinya sdh saya tunda bbrp hari, tapi krn sdh mau muncrat dari kepala, ya ditulis juga, meski tak disusun secara rapih. makasih.
August 29 at 1:33am