Thursday, August 27, 2009

Maaf, Aku Tak Sempurna

oleh: Saripudin H.A.

MENJADI sempurna merupakan cita-cita kemanusiaan. Di Barat, bukan saja ada Wonder Woman yang mempesona secara fisik, tapi juga ada Superman, baik di dunia komik dan film, maupun di ranah filsafat (dari Friedrich Nietzsche). Dalam filsafat Timur dikenal pula frasa "insan kamil", entah berasal dari Ibnu Arabi (jauh sebelum Nietzsche), atau Muhammad Iqbal. Ada kebutuhan secara esoteris untuk menjadi lebih baik, daripada sekadar baik. Baik saja dianggap tidak cukup.

Dalam terma ajaran, masuk Islam harus dilakukan secara kaaffah, menyeluruh. Ini perintah Allah Ta'aala langsung (Q.S. al-Baqarah 2:208). Bukan iman pada sebagian ayat dan kafir pada bagian lain--seperti perilaku Bani Israel (Q.S. al-Baqarah 2:85). Di antara umat Muslim, ada pula yang beriman pada sebagian ayat dan menundukkan ayat lain pada paham-paham dari Barat--dengan mencari tafsiran baru yang dipandang "tidak memalukan". Suatu sikap yang bisa masuk dalam jebakan setengah-tengah itu.

Begitulah, memang, keterasingan atau keanehan Islam merupakan sesuatu yang sudah diafirmasi oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. "Islam pada awalnya itu asing dan akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang (dianggap) asing!” kata Nabi, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim (no. 145). Sejatinya, tak ada inferiority complex pada kebudayaan apapun!

Zaman asing itu sudah lama datangnya. Yaitu sejak inferiority complex pada Barat menghinggapi kalangan terdidik kita di masa kolonial.

# # #

Beberapa tahun lalu seorang teman yang bekerja, lalu kuliah, di Bekasi pulang ke kampung kami, di Karawang, Jawa Barat. Jika dulu ia suka mematut dirinya karena ganteng dan berpakaian yang "sesuai", dalam kepulangan kali ini ia mengenakan pakaian yang mengganggu mata. Bukan kesederhanaan pakaiannya yang bikin heboh, eh bisik-bisik tetangga, tetapi "model" yang dikenakannya yang tak lazim. Atasannya baju koko (ini mah biasa), dengan padanan bawahan celana panjang di atas mata kaki.

Celana itu, sebenarnya, menyerupai celana kolor gombrong (longgar) yang biasa dipakai orang kampung kami dan para jawara Betawi, yang umumnya juga di atas mata kaki. Namun, celana itu menjadi aneh ketika dipadankan dengan baju koko saja, tanpa peci (hitam) dan kain sarung yang diselempangkan! Sementara kolor orang kampung, dipakai untuk saat santai saja, dan kini pun sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan keterasingan di mata para tetangga, aku yang pernah kuliah di LIPIA melihatnya dengan penuh mafhum dan maklum. Di kampus LIPIA, pakaian demikian mudah terlihat dikenakan mahasiswa dan dosen, serta tamu-tamu yang datang, baik yang bergaul dalam komunitas Salafiy maupun bukan. Ketika aku berbicara dengan teman tersebut, tahulah aku bahwa ia sudah "ngaji" Salafiy--atau Wahabiy dalam terminologi minor kaum liberalis.

Tetapi, keanehan dalam bisik-bisik tetangga tidak berlangsung lama. Seorang bapak, masih terhubung keluarga denganku, segera teringat pada kain sarung yang biasa dikenakan oleh KH Suhaimi (alm.) dulu. "Engkong Kiai juga dulu pakai sarung di atas mata kaki," katanya. "Jadi, ini bukan ajaran yang salah atau aneh," tambahnya.

KH Suhaimi yang disebutnya adalah tokoh Islam dari Mathla'ul Anwar di Menes, Banten, yang menyebarkan Islam di Batujaya, Karawang. Ia bersahabat baik, karena sama-sama tokoh Masyumi, dengan KH Noer Ali dari Ujung Harapan, Bekasi. Antara Batujaya dan Ujung Harapan dipisahkan oleh sungai Citarum. (KH Noer Ali ini tokoh NU, namun ia tetap di Masyumi ketika NU keluar tahun 1952.)

Karena kampung kami dianggap kampung Masyumi, pemerintah Orde Baru menempatkan tentara aktif menjadi kepala desa di sini selama puluhan tahun. Ini semacam strategi DOM di Aceh dalam skala yang kecil. Akibatnya, Golkar selalu menang di desa kami, mengalahkan PPP. Hingga Pemilu 2009 Partai Golkar tetap memperoleh suara teratas. Dalam suasana kultural yang direpresi Orde Baru itu, orang-orang tua kami, wajar saja, lupa pada sejarah masa lalunya.

# # #

Meski demikian, ide pembaruan Islam tetap hidup dalam lembaga pendidikan Mathla'ul Anwar (MA) di desa kami dan di desa Teluk Ambulu--desa lain yang juga jadi basis dakwah KH Suhaimi. Saat SLTA di kampung, aku sudah membaca Capita Selecta I karya Mohammad Natsir, buku salah seorang guru. Tapi, pengajaran di sekolah MA mengikuti kurikulum Departemen Agama. Beruntung, kami mempunyai guru-guru yang unik. Apabila ada pertanyaan murid yang tak diketahui jawabannya, guru kami akan berkata bahwa ia belum mendalami masalah tersebut.

"Saya tak tahu jawabannya. Akan saya cari dulu di kitab-kitab atau tanya pada orang yang lebih alim. Bila sudah ketemu jawabannya, nanti saya beritahu," ucap seorang guru senior. Sebelum menjadi seorang Muslim modernis, ia ini seorang tradisionalis, yang belajar di pesantren, dan menguasai doa-doa untuk kebal, misalnya.

Seorang guru yunior punya cara lain dalam menyikapi pertanyaan yang belum ia tahu jawabnya. "Saya lupa jawabannya. Dulu saya tak pernah tahu. Saya baca-baca buku dulu ya, nanti saya kabari," seloroh guru lulusan IAIN Bandung dan mantan aktivis HMI ini. Ia pulalah yang mengajak aku dan dua teman lain memiliki nomor baku anggota Muhammadiyah pada tahun 1991, tahun akhir SLTA.

Kami memang dibiasakan untuk beragama dengan dalil nash yang kuat, bukan taklid pada tradisi Islam yang ada dalam masyarakat. Ternyata tak mudah membiasakan diri kritis. Kalau anda baca definisi shalat, misalnya, yaitu dimulai dari takbir diakhiri dengan salam, tetapi dalam praktik anda diajarkan sejak kecil mengusap muka dengan kedua telapak tangan selesai salam, seperti juga saat selesai doa. Aku bertanya pada diriku sendiri, adakah dalil usap muka setelah salam sholat atau doa?

Dari beberapa buku tentang shalat yang kubaca, tak ada nash yang kuperlukan. Karena itu, aku tak lagi usap muka dengan kedua telapak tangan setelah doa dan setelah shalat. Awalnya terasa canggung, ada sesuatu yang kurang. Kadang lupa, tetap usap muka, ah mungkin karena shalatku saja yang tidak khusu', sehingga gerakan mengalir dengan sendirinya. Setelah sekian lama, barulah terbiasa dan nyaman secara psikologis.

Sebentar, jangan bayangkan aku orang yang keras. Calon kader-kader HMI dari Komisariat El-Himma (LIPIA) yang mengikuti materiku, "Islam dan Pluralitas Bangsa", umumnya memprotesku, sebagiannya memandangku liberal. Aku senang saja menanggapi protes dan debat mereka, memang ini yang ditumbuhkan dalam pengkaderan HMI.

Keragaman memang fenomena Islam hari ini, antara lain karena warisan tradisi fiqh klasik. Ketika ibuku hendak dikuburkan, pamanku (kakak dari ibuku) berkata, "Ayo adzan!" Melihatku diam saja, ia pun langsung adzan. Aku membiarkannya adzan hingga selesai. Jika kularang, mungkin keributan saat penguburan mayat bundaku yang malah terjadi. Mungkin pula kan muncul perasaan kurang pada diri pamanku, yang membuatnya merasa bersalah. Demikian juga saat pamanku yang lain, yang ini adik ibuku, berkata akan menggelar sedekahan selama tujuh malam. Aku tak bilang jangan, hanya kataku: "Apa tidak bisa tiga hari saja. Kasihan, kecapekan saudara-saudara kerja masak dan begadang." Ia bersikeras, dan aku membiarkannya. Hanya setelah malam ketiga, aku kembali ke Jakarta.

# # #

Namun, aku manusia yang tak sempurna. Tidak semua perintah (wajib, sunnah) bisa aku laksanakan. Demikian juga halnya menjauhi larangan (haram, makruh). Ambil contoh, larangan memakai celana melebihi mata kaki (isbal). Begitu banyak hadits shahih dari Imam Bukhari, Muslim dan perawi lain yang menyatakan larangan tersebut, baik disertai kesombongan saat mengenakannya maupun tidak, baik di saat shalat atau di luar shalat. Sejauh ini, aku hanya bisa menggulung celana, atau mengangkat kain sarung, hingga di atas mata kaki saat shalat. Di luar itu celana panjangku semuanya isbal.

Anda yang tetap isbal mungkin 'kan menghibur diri dengan menyatakan: toh dalam fiqh ada paham yang bilang larangan itu bukan haram, bahkan ada paham yang membolehkan isbal, selain pendapat yang menyatakan haram isbal atau wajib memakai celana/kain sarung di atas mata kaki bagi laki-laki. Tetapi aku tak suka menghibur diri dengan perbedaan fiqh klasik ini--yang belum banyak tersentuh kritik hadits. Aku memandangnya sebagai salah satu kelemahanku, karena dasar perintah adalah untuk dipatuhi dan larangan untuk dijauhi--dengan segera.

"Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat secara nyata." [Q.S. al-Ahzab 33:36]

Mengingat ayat di atas, aku senang pada mereka yang bisa langsung patuh. Mungkin kepatuhan itu karena kesederhanaan pikiran mereka, kata sebagian orang yang merasa terdidik, sebagaimana kelompok elite zaman nabi-nabi dahulu mengejek pengikut nabi sebagai orang rendahan. Sedang aku lebih suka menyebutnya sebagai ekspresi keimanan yang tulus, iman yang menguat. Seperti perempuan-perempuan Sahabat--radhiyallaahu 'anhunna--yang langsung menyobek/memotong kainnya untuk menutup kepalanya (plus leher dan dada), begitu mendengar ayat perintah jilbab yang baru turun kepada Nabi Muhammad [Q.S. al-Nuur 24:31].

Maaf, disebabkan tak sempurna itulah, aku selalu berusaha mengikuti pendapat (i'tiqadiyah atau fiqhiyah) dengan dalil (nash) yang kuat. Rasanya sayang, kalau amal yang sedikit ini digerogoti syirik atau bid'ah. Ya... di tengah keterbatasan waktu, pengetahuan, dan perhatian.[]

1 komentar:

  1. berikut bbrp komen teman2 FB di notes akunku (http://www.facebook.com/note.php?note_id=121985373327):

    Cholil Nafis
    banyak temen saya dulu di LIPIA yg tdk punya dasar yg kuat nerprilaku seperti itu.. pemahaman agama yg dangkal
    August 28 at 7:15am

    Rudi Hoerudin
    stelah mmbaca catatan ini,Aq trknang ms lalu...saat kt masih sm2 d kampung , abang adalah inspirasi dan tauladan ku..
    August 28 at 9:48am

    Mustafid Amna
    seperti apa mas? seperti mas sarip? atau seperti ??
    August 28 at 9:50am

    Budiyanto BerCahaya Art
    berbeda pandangan thdp suatu hal diperbolehkan slama ia mempunyai dalil yd kuat, prbedaan pnafsiran mrpkan slh satu ketidk sempurnaan kita n jgn ampe brantem kaya anak keciiil
    August 28 at 9:57am

    Tarry Farrah
    Makasih ya mas....ntar kirim2 lg ya.....bs nambah ilmu ni...
    August 28 at 11:19am

    Kurniawan Zein
    ane teringat..kawan 1 kelas di LIPIA, yang berpenampilan ala salafy, tapi 1 tahun selepas dari LIPIA, berubah tampilan, menggunakan jeans dan ilbas, tapi ada yang tidak berubah pandangannya tentang Islam..
    August 28 at 4:51pm

    Saripudin Ha
    @Hoer: makasih atas pujian antum. baarakallaahu fiikum.
    @Zein: pikiran bs tetap teguh, tapi perilaku kadang belum tentu....
    August 28 at 10:00pm

    Faiz Hakim
    'Farrau Return' (Farrau Back to Basic Manhaj)
    August 29 at 9:59am

    Tommy Rafiq Al Basyarahil
    Terima kasih, pak
    ini seperti 'menampar' saya dan mengingatkan ketika saya di persimpangan jalan beberapa waktu yang lalu...

    tiada satu pun yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik-NYA. tetapi bagaimana kita belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik dan sempurna, itu yang patut dan mesti tetap ada. begitu kan pak?
    August 31 at 1:53am

    Saripudin Ha
    ya... hari esok harusnya mmang lebih baik drpd hari ini.
    Iman bertambah n berkurang; beruntunglah orang yg saat imannya berkurang tetap mengingatNya.
    August 31 at 2:03am

    Tommy Rafiq Al Basyarahil
    yups, setuju sekali pak...
    terima kasih sudah mengingatkan.. jangan pernah bosan tuk terus berbagi dg kami (saya) ya pak..
    August 31 at 2:07am

    ReplyDelete